THE CORNER OF MY WORLD

Everyone has a story of their life. Here are mine: stories about love, friendship, family, dreams, and hopes, all set in the corner of my world. Fortunately, despite this big world, I have found my own little corner :D

Powered by Blogger.

Tanjung Selor, kota kecil di tepian Sungai Kayan itu, mungkin tak masuk dalam daftar destinasi impian banyak orang. Tapi bagiku, kota ini menyimpan potongan hidup yang tak mungkin kulupakan.


Tiga tahun berlalu sejak aku terakhir kali menjejakkan kaki di Tanjung Selor. Kota yang dulu sempat menjadi tempatku tumbuh, belajar bertahan, dan diam-diam menyembuhkan. Tak selalu manis memang, tapi entah kenapa, saat aku kembali—meski hanya sekejap—aku merasa seperti sedang dipeluk hangat oleh kenangan.

Kunjungan kali ini berawal dari tugas dinas. Ada arahan dari pimpinan untuk mendampingi tugas di sana, lalu aku merespon dengan wajah berbinar-binar penuh makna, "Siap ditugaskan!"

Kantor yang suportif lalu mengirimku mendampingi agenda ke Tanjung Selor.

Tiga hari. Waktu yang sangat singkat, tapi cukup untuk melihat kembali jejak-jejak lama. Kesempatan langka itu aku manfaatkan untuk bertemu teman-teman dan menapak tilas setiap tempat yang pernah ku lalui. 

Kantor-kantor pemerintahan, tepian, indekos, coffee shop, pelabuhan, dan sebagainya. 

Aku bahkan masih mengingat jalan-jalan di sana. Sengkawit, Kol. Soetadji, dan komplek jalan buah-buahan yang seperti labirin. 

Senang sekali bisa kembali ke Tanjung Selor dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Ibu Kota Kalimantan Utara ini juga ku lihat tumbuh semakin baik. Ada semakin banyak resto kekinian dan coffee shop yang makin menjamur. Tanda perkembangan ekonominya tumbuh positif. Meski aku yakin, harga-harganya pasti tetap mahal. (😅)

Hari pertama, aku dibantu kawan lamaku, Jum, untuk mengurus hotel. Kebetulan dia juga sedang mengurus atasan tempatnya bekerja di hotel yang sama. Sore harinya, aku bertemu Mba Rika—teman sepedaan yang selalu mengejaku dengan nama “Kajar”. 

Kami menyeruput minuman matcha dan cokelat sambil bernostalgia di sebuah coffee shop di Jalan Durian, yang jadi markas wartawan mengetik berita.



Puncak nostalgia terjadi di hari kedua. Usai agenda kerja, malamnya aku bertemu teman-teman lama—rekan kerja seperjuangan saat aku masih berdomisili di sini. Kami berkumpul di tepian Sungai Kayan yang kini telah berubah menjadi pusat kuliner malam. 



Lampu-lampu kuning temaram, deretan stan UMKM, dan aroma kopi membuat suasana hangat dan hidup. Kami tertawa, mengenang masa lalu, dan tanpa sadar membongkar sisi-sisi diriku yang dulu. 


Rupanya dulu aku dianggap introvert karena jarang ikut nongkrong. Padahal, sepertinya saat itu aku hanya sedang burn out saja... Dan lebih senang menghabiskan waktu sendiri ketimbang ramai-ramai. Hidup memang kadang begitu.

Rencana jogging bareng Mba Rika di hari terakhir harus gagal karena hujan pagi itu terlalu nyaman untuk dilawan. Kami memilih tidur lebih lama. Siangnya, aku menyeberang ke Tarakan, mengejar pesawat ke Balikpapan dari Bandara Internasional Juwata. 

Tapi lebih dari itu, aku punya alasan sentimental: ingin bertemu para sahabat SMA-ku yang menetap di Tarakan—"rumah singgah" ternyaman versiku di Kalimantan Utara.

Kami berkumpul di sebuah kafe di Gunung Lingkas. Tujuh orang, tujuh cerita yang kembali bertaut dalam tawa dan pelukan. Lathi, Adhel, Tika, Hafsa, Halimah, Rahma, dan aku. Tiga jam penuh nostalgia, mengisi ulang energi dan jiwa yang sempat lelah.



Sebelum ke bandara, Lathi mengantarku. Dalam perjalanan, aku melihat kembali potongan hidupku yang pernah terasa berat—tapi ternyata aku berhasil melewatinya.

"One day you will look back on your life and congratulate yourself. Smile and say, it was hard but I did it!"

📍Tarakan, 25 April 2025. From 12,875 ft

Khajjar. R

Hi readers! 

Ga kerasa yaa, sudah masuk bulan kedua di tahun 2024. Bagaimana 2024 kalian? 

Tahun lalu, aku menulis resolusi untuk tahun 2023. And yes, i did some of my resolution, wohoo.

👉🏻 Resolusi 2023

Tahun ini aku tidak akan menulis tentang resolusi lagi di blog ini. Cukup menyimpannya saja di buku catatanku. 

Aku hanya akan menulis hal-hal berkesan, dan semoga menginspirasi. 

Aku menyibukkan diri dengan banyak sekali aktivitas diawal tahun ini. Seperti memulai kursus menyetir mobil, mengambil kelas bahasa inggris, dan rutin olahraga. 

Rasanya menyenangkan sekali memulai semuanya. Meski lelah, tapi memuaskan! 

Dan hari ini, aku akan mencatat sejarah di hidupku. Selasa 6 Februari 2024, akhirnya untuk pertama kali, aku berhasil mewujudkan: KANTONG DARAH PERTAMAKU! 

Yeaaaayyyy!!! 

Ya, aku berhasil mendonorkan darahku. Aku tidak tahu bagaimana harus mengekspresikannya, tapi aku sungguh bahagia dan puas sekali. 

Donor darah ini, adalah hal yang aku usahakan sejak (mungkin sekitar) 10 tahun lalu. Rasanya seperti, aku merasa hidupku lebih berguna saja jika sebagian dari diriku, bisa bermanfaat bagi orang lain. Mendonorkan darah bagi mereka yang membutuhkan, memberi arti sendiri bagi hidupku. 

Keinginan ingin donor darah ini sudah ada sejak aku masih mahasiswa. Hanya saja saat itu, aku belum bisa donor karena berat badan masih di bawah 45 kilogram (kg). Untuk bisa donor, berat badan seorang pendonor minimal di angka 45 kg. 

"Orang yang memiliki berat badan terlalu ringan, atau kurang dari 45 kg, dianggap memiliki jumlah darah yang sedikit. Sehingga dikhawatirkan tidak bisa menoleransi pengambilan darah saat proses donor." --Halodoc.com--

Tahun 2022, saat aku bekerja di Kaltara entah bagaimana berat badanku meningkat sampai 50 kg. Either I was happy or stress, tapi aku menyambutnya dengan langsung mendatangi PMI (Palang Merah Indonesia) setempat untuk mendonorkan darahku. 

Di tahap screening, ternyata aku gagal di tekanan darah. Tensiku saat itu, 90/70 tidak memenuhi syarat minimal tekanan darah saat donor: 

"Tekanan darah harus berada di angka 100-160 untuk sistolik dan 70-100 untuk diastolik." --Halodoc.com--

Aku disarankan mengonsumsi asupan yang dapat meningkatkan tensi darah. Saat itu juga, aku langsung pulang untuk mengonsumsi sayur bayam dan daging ayam sesuai saran nakes (tenaga kesehatan). Aku bahkan kembali lagi ke PMI di hari yang sama, berharap tensiku sudah membaik dan cukup untuk melakukan donor darah. 

Ternyata, masih gagal. Hari-hari berikutnya, berkali-kali mencoba dan tetap gagal karena tensi yang masih rendah. 

Sepanjang 2023, aku rutin melakukan screening donor darah di PMI Kota Samarinda. Ada saja kendalanya, batuk sedikit tidak boleh. Kurang tidur, tidak boleh, dan syarat utama lain seperti tensi darah, suhu tubuh, ukuran denyut nadi, dan kadar hemogoblin (hb). 

Syarat terakhir itu, menjadi tantangan terbaru. Ketika semuanya sudah memenuhi syarat, ternyata kadar hemoglobinku kurang.  

Screening terakhirku di tanggal 10 Januari 2024, kadar hemogoblinku tercatat: 12,3 gr/dl. Sementara syarat donor itu minimal 12,5 gr/dl. 

"Kadar hemogoblin 12,3 gr/dl itu sebenarnya normal. Tapi untuk donor, kami syaratkan 12,5 gr/dl karena nanti saat donor kan hemogoblin pasti menurun. Jadi meski menurun tetap di kadar normal, karena kondisi hb-nya tinggi," -- nakes PMI Samarinda -- 

Aku menuruti saran nakes untuk mengonsumsi banyak sayuran hijau dan minum Tablet Tambah Darah (TTD) untuk meningkatkan hb. 

Demi apapun, aku sebenarnya tidak bisa minum kapsul. Tapi terpaksa aku minum demi meningkatkan hb.

Sebulan kemudian 6 Februari 2024 aku kembali screening dan yes! I checked all on the list ✔️.

Sedang batuk? Tidak!

Tidur cukup? Ya!

Sudah sarapan? Sudah!

Walaupun setelah lolos screening, aku sebenarnya agak panik karena tidak siap donor darah saat itu. Aku random saja melakukan screening karena kebetulan lewat PMI dan hanya mampir dengan ekspektasi: "paling tidak lolos lagi," 

Ketika ternyata lolos, aku belum menyiapkan mental untuk ditusuk jarum dan melihat darahku keluar.... 

Tapi yaa, karena sudah basah, mandi saja sekalian. 

Aku memilih pengambilan darah dari lengan kiri. Jarum yang digunakan untuk donor ternyata lebih besar dari jarum suntik biasa. 

"Agak sakit yaa mba, karena jarumnya lebih besar dari biasanya," kata nakes Mba Leny Adiva yang menanganiku.

"Waduh..." 

Aku menutup mata dan membayangkan akan sesakit apa. Ternyata, sst. Hanya seperti disengat semut merah. Aman, bisa ditahan. 

Lenganku ditusuk jarum hingga ke pembuluh lalu darah dialirkan dengan selang kecil ke dalam kantong sambil ditimbang sampai 350 ml. 

Kantong itu harus terisi penuh. Kalau tidak penuh, tidak bisa dipakai untuk didonorkan kepada pasien. 

Kata nakes, karena ini pertama kali, ada kemungkinan aku akan pusing atau mual. Tapi ternyata, aku baik-baik saja. Sehat sekali. Never been better before this.

"Setelah donor pertama kali, jaraknya 60 hari untuk donor kembali ya mba," pesan nakes saat proses donorku selesai. 

I almost cried seeing a bag full of my blood. Lalu berpesan dalam hati, 

"Untuk siapapun ini, semoga bermanfaat...." 

-- Khajjar. R --

 

Syarat Donor Darah

  • Kondisi fisik harus dalam keadaan sehat, jasmani maupun rohani. 
  • Berusia 17-60 tahun. 
  • Memiliki berat badan minimal 45 kilogram 
  • Suhu tubuh 36,6-37,5 derajat Celcius.
  • Tekanan darah harus berada di angka 100-160 untuk sistolik dan 70-100 untuk diastolik.
  • Saat pemeriksaan, denyut nadi harus sekitar 50-100 kali per menit. 
  • Kadar hemoglobin minimal 12 gr/dl untuk wanita, dan minimal 12,5 gr/dl untuk pria. (Halodoc.com)

(Tanpa) Resolusi

Hai…hai. Wah kangen sekali dengan blog ini. Rasanya sudah lama sekali tidak menulis blog.

Bagaimana kabarnya kawan-kawan? Bagaimana 2023 kalian? Sudah menjalani hampir sebulan di tahun 2023. Gimana, masih kuat? 

Bagaimana pun keadaan kalian, aku doakan kita semua diberi kekuatan dalam menjalani hari-hari kita. Hidup memang berjalan seperti ini. Kalau gak berat, ya berat banget.

Jadi meski hidup kadang tidak berjalan mudah, semoga kita selalu tumbuh semakin kuat. Semangat untuk para pejuang kehidupan di luar sana.... 💪🏻💪🏻

Sebelum menulis tentang 2023, aku mau mereview dulu tahun 2022-ku. 

2022 bukan tahun yang mudah buatku. Di awal tahun, stressful sekali. 

Mulai dari perkara resolusi 2021 yang tidak tercapai, masalah pekerjaan, berusaha survive sendirian di kampung orang, dan perjuangan melawan pikiran sendiri yang sangat mengganggu. 

Di pertengahan tahun 2022, aku berusaha tegas mengambil keputusan. Melepas hal yang tidak membahagiakan dan merapikan jalan hidup akibat kegagalan resolusi di 2021. 

Tengah tahun 2022, aku memutuskan pindah kerja. Sisa tahun berikutnya, aku fokus menjalani rutinitas di tempat kerja baru...... And here it is, tiba-tiba sudah menjalani tahun baru. 2023. 

Di tahun 2023 ini, tentu aku masih punya resolusi. Mau di bawa kemana hidup tanpa resolusi?

Pict by Freepik.com

Tapi resolusiku tahun ini, lebih kepada hal-hal simpel yang bisa aku lakukan dengan diriku sendiri. Tidak lagi resolusi penuh ambisi yang berada di luar kuasaku.

Misal, di 2021 lalu resolusiku adalah punya pekerjaan yang stabil. Eh ternyata, boro-boro stabil, aku malah dipindahkan ke kantor manajemen di seberang provinsi yang aku pikir akan lebih baik. Ternyata, tidak juga.

Dari situ aku sadar, pekerjaan itu kan rezeki. Rezeki itu, Tuhan yang atur. Itu di luar kuasa kita. Jadi urusan rezeki, biarlah itu menjadi kuasa Tuhan. Aku hanya akan fokus dengan hal yang ada dalam kuasaku sendiri.

Jadi resolusiku tahun ini, hanya akan menjalani hidup dengan baik. Mensyukuri apa yang aku terima dan bersabar akan apa yang belum tercapai. 

Hidup akan terasa jauh lebih ringan jika kita memandangnya dengan sederhana.

Ngomong-ngomong soal resolusi, rasanya aku baru berpikir soal punya resolusi ini, saat memasuki usia dewasa. Saat era sekolah dulu, rasanya aku tidak pernah punya resolusi. 

Hidup sudah teratur dengan kurikulum sekolah. Belajar, ujian, naik kelas, belajar lagi, dan seterusnya. Kangen sekali menjalani hidup tanpa resolusi. 

Pun soal prestasi di kelas juga tidak pernah jadi resolusiku. Tahun ini rangking 1, tahun depan ranking 2, lalu turun rangking 5, ya ku terima saja seolah memang sudah seharusnya begitu. Tidak ada ambisi, harus rangking 1 lagi atau bertahan di rangking 2. 

Aku baru punya resolusi saat kuliah. Karena terbakar semangat motivator dan senior-senior kampus yang keren-keren. 

Saat maba dulu, kami diperlihatkan video motivasi tentang 100 mimpi. Rasanya itu jadi video wajib yang dipertontonkan untuk para maba setiap tahunnya. Jadi kita diajak untuk menulis tentang apa 100 mimpi kita. 

Ikutlah aku, menulis daftar mimpi-mimpiku di buku. Rasanya tidak sampai 100, dan sebagian besar memang terwujud. 

Fase kehidupan di kampus memang penuh energi positif. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu, dimana semua hal terasa menyenangkan dan dipenuhi dengan orang-orang bijak yang bisa menjadi panutan. 

Di kehidupan sekarang, ingin membawa semangat membara seperti jaman kuliah dulu, tapi rasanya syulit sekali. Jangankan menulis 100 mimpi. Satu keinginan gagal saja, sudah kapok. 

Tapi aku ingat petuah Pak Dahlan: 

"Kalau semua yang kamu inginkan segera terwujud, lantas dimana letak sabar dan perjuangannya?" 

Jadi ya, mimpi boleh saja gagal. Sabar dan berjuang yang tidak boleh padam. 🔥🔥


Semangat Membara 2023! 🔥🔥


Khajjar RV 






 

Selama di Tanjung Selor, aku punya hobi baru. Bersepeda. Salah satu yang aku syukuri, datang ke tempat baru itu memberikan kita kesempatan untuk mencoba hal-hal baru. Rasanya di Samarinda dulu, kepikiran untuk bersepeda saja tidak. Apalagi membeli sepeda. Di Tanjung Selor (Tjs) aku melakukan itu.

Memulai bersepeda di Tjs , awalnya karena diajak Mba Rika, wartawan Radar Tarakan. Kami biasanya bersepeda tiap Sabtu sore. Kebetulan Mba Rika memang punya dua sepeda. Satu sepedanya dipinjamkan ke aku setiap kali kami memulai gowes di akhir pekan.

Tentu kami bukan biker profesional. Kami hanya bersepeda untuk senang-senang. Cuma untuk jalan-jalan sore. Gowes beberapa ratus meter, lalu njajan di tepian Sungai Kayan.

Tapi buatku itu menyenangkan sekali.  Semacam healing untukku yang cuma punya libur sehari dalam seminggu. Dengan bersepeda saja, rasanya bisa me-release stress dari beban kerja sepekan lalu.

Dengan bersepeda, hati rasanya menjadi gembira dan pikiran kembali positif. Apalagi kalau track bersepedanya sambil mengunjungi tempat-tempat baru. 

Sepeda baru meski beli bekas :D


Bersepeda di depan Masjid Agung Tanjung Selor 

Aku dan sepeda mba Rika yang ga ada standart-nya 😁 (makanya kudu dipegangin)

Seperti waktu itu, kami bersepeda ke Tanjung Palas Tengah. Menuju ke sana kami harus menenteng sepeda naik perahu ketinting menyeberangi Sungai Kayan.

Dari Tanjung Selor ke Tanjung Palas Tengah memang lebih dekat menggunakan ketinting. Hanya perlu menyeberang dua menit melalui Sungai Kayan. Dibanding jalan darat yang harus memutar 20 kilometer jauhnya melalui Bulu Perindu. 

Walau pun menyeberang menggunakan ketinting itu, butuh adrenalin juga. Karena ketinting yang digunakan untuk menyeberang Sungai Kayan, kecil sekali. Hanya muat untuk kapasitas maksimal 8 penumpang dan 3 sepeda motor.

Kami yang naik sepeda, pasti ditempatkan di ujung perahu. Karena bagian tengah perahu yang lebih lebar, ditempatkan untuk sepeda motor. Berbeda dengan motor yang bisa berdiri tegak dengan standartnya. Sepeda harus sambil dipegangi biar tidak jatuh ke sungai.

Jadi waktu aku dan Mba Rika menyeberang sungai Kayan menuju Tanjung Palas itu, kami berdiri di ujung perahu sambil memegangi sepeda. Tanpa pelampung. Tak satu detik pun rasanya saat itu, tanpa membayangkan kami berdua jatuh ke sungai. Karena lebar perahunya memang kecil sekali. Tak sampai satu meter.

Tapi itu juga sih serunya. Sejak di Kaltara aku memang hobi sekali naik perahu. Padahal aku ini, tidak bisa berenang.

Bersepeda di Tanjung Palas pun menyenangkan. Suasana di sana asri sekali. Rasanya, udara di Tanjung Palas dengan udara di Tanjung Selor itu berbeda. Udara di sana, rasanya lebih segar untuk dihirup.

***

Sepeda yang biasa aku pinjam dari Mba Rika akhirnya kubeli. Walau harus menyicil dua kali, karena bulan ini pengeluaran agak banyak karena aku pindah kos. Untung mba Rika memang baik hati. Jadi dia jual sepedanya padaku. Meski dengan harga murah plus dicicil dua kali. 


Terima kasih Mba Rika!

Membeli sepeda itu, rasanya puas sekali. Sesekali kita memang harus keluar uang untuk menyenangkan diri sendiri. Setiap melihat sepeda itu, aku seperti merasa, aku punya teman baru. Harus kah aku kasih dia nama?

Aku memang selalu merasa punya ikatan emosional dengan semua barang-barangku. Apalagi yang ku beli dengan uangku sendiri. Semua barang-barangku itu, ada history-nya, ada jerih payahnya, dan ada momentnya.

 Baca juga "Random Story: Laptopku yang Kucinta"

Apalagi setelah SMP, baru sekarang ini lah aku punya sepeda lagi. Dan rasa senangnya, sama seperti saat aku punya sepeda pertamaku, saat kecil dulu. Aku bersyukur sekali, aku melalui masa kecil yang menyenangkan. Aku punya sepeda pertama saat umur 6 tahun. Sepeda mini kecil berwarna pink yang dibelikan Bapak di pasar kecamatan.

Lalu setiap hari diajari naik sepeda di depan rumah. Selama belajar sepeda bersama Bapak, aku tidak pernah dibiarkan jatuh. Makanya tidak bisa-bisa. Dan kalau belajar sepeda bersama mba Luluk, lalu aku jatuh, pasti Mba Luluk akan dimarahi Bapak.

Saat besar ini aku baru menyadari, momen  memiliki dan belajar sepeda itu berharga sekali. Tidak semua anak punya kesempatan mendapatkannya.

Membaca novel Sepatu Dahlan (biografi Pak Dahlan Iskan) saja aku menangis. Bahwa impian terbesarnya saat kecil hanya dua hal: sepatu dan sepeda. Beliau bahkan baru belajar naik sepeda ketika SMP. Itu pun, meminjam sepeda temannya. 

Makanya aku sedih sekali, kalau melihat anak kecil yang ingin punya sepeda, tapi tidak punya kesempatan untuk mendapatkannya. Tidak semua anak terlahir beruntung. Bisa mendapat hal yang mereka inginkan. Hal yang membawaku, senang menonton video Presiden Jokowi bagi-bagi sepeda kepada anak-anak. Walau pertanyaanya hanya soal ikan-ikan. (Khajjar RV)


Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis peringkat provinsi paling bahagia di Indonesia. Melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) tahun 2021.  Dan betapa membanggakan, sekaligus juga mengagetkan. Kalimantan Utara (Kaltara) menempati posisi kedua.

Poinnya bahkan berbeda tipis dengan peringkat nomor satu, Maluku Utara. Hanya berbeda 0,01 poin. Maluku Utara dengan skor 76,34. Dan Kaltara dengan skor 76,33. Data indeks kebahagiaan itu, sontak membuat warga Kaltara senang. Walau pun kebahagiaan tidak menjadi indikator kemajuan suatu wilayah.

Saya yang tujuh bulan terakhir, ditempatkan di provinsi ini, secara pribadi pun mengakuinya. Saya memang lebih bahagia ada di sini.

Klaim itu bahkan tidak datang dari saya pribadi. Awal tahun lalu saya sempat cuti, dan pulang ke kampung asal saya di Kalimantan Timur (Kaltim). Hampir semua orang yang saya temui, bilang saya gemukan. Dan kata mereka, saya terlihat lebih bahagia.

Well, lalu saya bercermin dan melihat wajah saya sendiri. Memang ya, agak gemukan. Haha. (Padahal makanan di Kaltara ini mahal-mahal). 

 Kaltim - Kaltara sebenarnya adalah dua provinsi yang identik. Apalagi, secara history, mereka dulunya satu kesatuan. Sebelum Kaltara mekar menjadi sebuah provinsi pada 2012. Meski demikian, dalam banyak hal, Kaltim - Kaltara memiliki banyak perbedaan. Perbedaan itu lah, yang secara pribadi, menjadi indikator saya lebih betah (bahagia) di Kaltara.

  • ·         Pertama, jumlah penduduknya sedikit

Jumlah penduduk Kaltara tidak terlalu banyak. Hanya sekitar 700 ribu jiwa. Dibanding penduduk Kaltim yang mencapai 3,8 juta jiwa. Jumlah penduduk se-provinsi ini, hanya setara dengan penduduk Kota Balikpapan. Padahal melihat luas wilayahnya, Kaltara berpotensi bisa menambah jumlah penduduk, minimal setengah dari populasi Kaltim.

Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang bahkan menarget, Kaltara bisa menambah jumlah penduduk menjadi 1 juta jiwa dalam dua tahun kedepan. Tapi jujur lah, saya lebih senang keadaannya yang seperti sekarang. Lebih tenang. Jangan terlalu banyak manusia. Saya yang punya sebagian jiwa introvert, sangat menyukai kota yang sepi.

Sedikitnya manusia sejalan dengan sedikitnya jumlah kendaraan di jalan. Jadi potensi polusi udara berkurang dan tidak ada macet. Terutama di wilayah ibu kotanya, Tanjung Selor.

Bahkan, ada anekdot dari warga Tanjung Selor yang bilang "Yang bisa menghentikan kendaraan kita di sini, hanya lampu merah." Tidak ada kendaraan padat merayap oleh sebab kemacetan.

Di sini bisa bersepeda santai, tanpa takut ditabrak orang :D
 

  • ·         Kedua, budayanya masih sangat kental.

Hampir di setiap acara, ada tarian daerah yang ditampilkan. Di Kaltim, tarian daerah yang paling sering saya lihat hanya tarian Dayak. Itu pun, sudah jarang ditampilkan kalau bukan acara besar. Di Kaltara saya bisa melihat tarian dari suku lain. Seperti Tidung dan Bulungan. Ada satu momen, saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bulungan, pada 12 Oktober 2021 lalu. Seluruh orang memakai pakaian adat memenuhi halaman kantor bupati, menari Jepen bersama. Asyik sekali. Sejak itu lah, saya ingin belajar tari Jepen. Di Kaltim, tidak pernah saya memiliki hasrat belajar tari daerah.

Dan satu lagi, tari Semajau. Tarian ini tidak perlu dipelajari. Kita cukup berbaris melingkar, saling memegang pundak orang di depan. Lalu berjalan membentuk lingkaran. Mengikuti irama musik yang diputar. Seru sekali. 

Tari Jepen Bersama oleh masyarakat Bulungan

  • ·         Ketiga, nasionalisme kedaerahan terus dipupuk.

Saya mengakui tagline 'Kaltara dihati' itu mengena sekali.  Kaltara dihati itu, tidak perlu indikator apa pun. Tidak seperti tagline Kaltim misalnya, Kaltim Berdaulat, berdaulat dari apa? Atau Kaltara Terdepan, terdepan dari siapa? Kaltara dihati, kan tidak perlu pembuktian apa pun. Apa pun yang terjadi, kita bisa bilang Kaltara di hati. (Sungkem sama yang bikin jargon)

Bentuk nasionalisme kedaerahan lainnya, adalah menyanyikan lagu Mars Kaltara setelah lagu Indonesia Raya, di setiap acara. Salah satunya, pasti karena faktor geografis Kaltara yang berada di perbatasan luar negeri. Sehingga, nasionalisme cinta daerah, harus terus dipupuk.

Saya sampai hafal lagu Mars Kaltara karena sering mengikuti agenda pemerintah provinsi. Liriknya bahkan terngiang,

"Gunung di perbatasan hijau. Sungai dan laut biru. Sejauh negeri ku datangi, hatiku tetap di Kaltara......"

Padahal, Mars Kaltim saja, saya tidak tahu sama sekali. Bukan salah saya, karena memang tidak pernah dinyanyikan di banyak acara. 

 

  • ·         Keempat, work life balance.

Redaktur saya, yang baru datang dari Balikpapan, kaget. Kedai kopi, baru buka jam 12 siang. Itu lah Kaltara, work life balance haha.

Walau pun dalam konotasi negatif juga terjadi. Misalnya pegawai kantor pemerintahan yang sepi. Senin terasa Sabtu. Work life balance. Yang penting bahagiaaaaa.

Work life balance: pagi kerja - malam nongki

                                                                      --**--

Di luar dari indikator kebahagiaan itu, tentu saja ada banyak sekali yang kurang di daerah ini. Seperti tidak ada bioskop. Sedih sekali, para masyarakat di Kaltara yang ingin menonton film favorit. Harus menunggu film itu rilis di kanal streaming. Atau kalau yang nakal, menonton secara ilegal. Saya saja, kemarin harap-harap cemas. Apakah sempat menonton Spiderman di bioskop Samarinda.

Lalu fasilitas kesehatan yang masih sangat minim. Saya yang berkaca mata, harus memeriksakan kesehatan mata saya minimal 6 bulan sekali. Belum ada klinik mata yang proper di sini. Misalnya ketika ingin lasik, apa saya harus pergi ke Samarinda?

Dan tentu, saya harus menyuarakan kebutuhan hedon milenial sekarang. Tidak ada Starbucks, Jco, McD, KFC, UNIQLO, SOHO dan sebangsanya. Walau pun, dari segi kantong, itu menguntungkan!

Tapi toh semua kekurangan itu bukan keajaiban yang harus diturunkan Tuhan dari langit. Asal ada kemauan, yang tidak ada itu bisa diadakan.  Kesimpulannya, di Kaltara tetap lebih bahagia! Kalau tidak percaya, Anda bisa buktikan sendiri.

Kenapa harus membuktikan? Karena bahagia adalah koentji, namaste! 

 

Salam bahagia, 

 --Khajjar RV--  


Artikel ini sudah terbit dalam: Catatan Redaksi SKH Koran Disway Kaltara Edisi Rabu (19/1/2022) dan https://nomorsatuutara.com/kaltara-bahagia/amp/ 

 (--Khajjar RV will return in the next blog, stay tune!--)

Halo, selamat pagi sobat-sobat online ku. Pembaca setia blog aku yang ga seberapa ini. Di usia yang semakin tua dan makin jauh dari teman-teman. Menulis blog ini, punya tempat tersendiri. Dengan menulis, terus ada yang baca, itu bagaikan bercerita ke temen dekat. Meski dengan skala yang berbeda. Jujur itu yang aku rasain selama aku ngeblog. Walaupun pada kenyataanya hampir setahunan blog ini, aku anggurin.
 
Kenapa? Karena selama 2020 kemarin aku struggle banget sama kerjaan. Kerja yang nuntut aku membuat report setiap hari. Sehingga setiap waktu harus berkutat dengan draft tulisan. Kalo harus ngeblog juga? Duuh aku bisa gila. Bisa mabok tulisan. 
 
Di samping itu aku juga ngerasa hidupku gitu-gitu aja. Ga ada hal yang menarik untuk diceritakan. Walau sebenarnya cerita itu cuma butuh untuk disampaikan. Ga perlu layak atau engga. 
 
Dan aku yang kemarin, setahun yang lalu adalah aku yang penuh keluh kesah, hobi misuh-misuh, suka sambat, dan kurang syukur. Bakal jadi energi negatif kalo cerita-ceritaku pada masa itu aku post di blog. Jadi aku putuskan, pada saat itu ga nulis blog dulu. 
 
Memasuki semester pertama 2021, strugglenya sih masih sama. Hidup belum baik-baik aja. Tapi saat itu, aku sudah mulai punya rencana untuk mengambil langkah baru. Terutama soal kerjaan. 
 
Jadi aku udah rencanain, bakal stay dikerjaan sekarang sampai beberapa bulan ke depan. Setelah itu aku berencana untuk resign dan cari kerjaan baru. Tempat baru, suasana baru, dan orang-orang baru. Karena aku butuh me-refresh hidup aku yang aku rasa selama ini flat banget. 
 
Ternyata, sebelum aku memutuskan untuk resign. Kantor sudah lebih dulu meng-cut me off. Aku dirumahkan. Yah, seperti sektor usaha lain yang terdampak pandemi, begitu juga dengan kantorku.
 
Tiba-tiba aku stress. Rencana yang udah aku susun, hancur berantakan. Emang paling bener yaa, rencana yang sukses adalah rencana yang tidak direncanakan. Dan, sematang apa pun manusia punya rencana, kalau ga sejalan sama kehendak Tuhan, ya ga akan jalan. 
 
Dari situ aku cuma mencoba pasrah (untuk ga bilang menyerah). "Yaudah deh, bakal kemana rencana Tuhan, aku akan ikuti," 
 
Tapi ternyata, kantor masih baik hati untuk mempertahankan aku. Jadi mereka nawarin, untuk tetap stay di kerjaan. Tapi pindah penempatan ke daerah lain. Ke kantor manajemen di sana yang lebih stabil. 
 
Sebenarnya saat itu, aku masih punya opsi lain, untuk stay on the track aja direncana awal. Resign. Dan cari kerjaan baru. Tapi aku mikir lagi, aku gamau keluar dari kerjaan dengan kondisi aku yang sedang 'dirumahkan.' Even though I hate this job, I don't want to lose it this way.
 
Karena, seberapa pun aku tidak mencintai pekerjaan ini. Tapi bagaimana pun juga, ini adalah pekerjaan profesi pertama ku. Aku akan mengenang pekerjaan ini, sebagai tempat belajar terbaik. Kalau aku keluar dengan cara yang tidak menyenangkan, aku hanya akan mengenang pekerjaan ini dengan buruk.
 
Jadi aku putuskan untuk memperpanjang masa kerja ku di kantor ini. Dengan menerima tawaran pindah ke penempatan baru. Dan setelah aku pikir-pikir. Aku dapat semuanya yang memang aku mau. Tempat baru, suasana baru, dan orang-orang baru. Meski masih dibidang pekerjaan yang sama. 
 
Dan akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran pindah tugas ke daerah. Yakni ke kantor manajemen di Kalimantan Utara (Kaltara). Awalnya, aku akan ditempatkan di Berau, which is itu masih Kaltim. Tapi akhirnya, dengan beberapa pertimbangan aku ditempatkan di Tanjung Selor, Ibu Kota Provinsi Kaltara. 
 
I was so excited when I know I will go there, karena di sana selain ada Andes, aku akan dekat dengan teman-teman ku di Tarakan. 
 
Singkat cerita per 10 Juni kemarin, akhirnya aku berangkat ke Kaltara. Nginep semalam di Balikpapan buat perpisahan sama sepupu dan ipar. Mbak Nur dan Nabila. Dan terbang ke Berau Kamis pagi. 
 
Aku pikir aku memang sebahagia itu untuk memulai hidup ke tempat baru. Tapi kenyataanya, selama penerbangan di pesawat aku kalut juga. Tiba-tiba perasaan takut dan ragu menyergap hati ku. Muncul pertanyaan-pertanyaan, yang bahkan gabisa aku jawab. 
 
"Am I right? Is this the best choice that I choose? Could it be better there? Or even worse? Kalo homesick gimana? Kalo tiba-tiba pengen pulang gimana?" 
 
Mikirin itu sampe akhirnya aku nangis sepanjang penerbangan. Dan terpaksa pake kaca mata hitam pas landing di bandara. Malu kalo mata sembab kaya kodok. 
 
Di bandara untungnya dijemput sama bos dari kantor. Jadi ga ngenes-ngenes amat sendirian gatau apa-apa di tempat baru. And fortunately, Amel juga datengin ke bandara. Sempet lepas kangen sebentar dan lunch bareng. Diajak muter-muter Berau sebentar, terus akhirnya head to Tanjung Selor melalui perjalanan darat selama 3 jam.
 
Dimana selama perjalanan 3 jam itu, aku ngerasa bener-bener kaya norak banget memasuki pedalaman Kalimantan. Perjalanan yang ngeri-ngeri sedap. Karena sepanjang jalan yang kanan kiri hutan, ga ada signal, dan sempet ngelewatin tambang batu yang aku pikir kami nyasar ke planet lain. 
 
Akhirnya setelah sampai di Tanjung Selor, drop koper dan barang ke kos Andes. Terus diajak ke kantor manajemen di sana. Malamnya, diajak makan malem bareng Pak Dirut. Yang mana Pak Dirut ini ternyata adalah cucu dari pendiri pesantren tempat aku mondok dulu, jaman SMA di Balikpapan. Wow, world is so that smalllll. Aku jadi ngerasa, waaah match nih. Kayanya bener jalan hidup ku ke sini (insha Allah) Hehe. 
 
Setelah menginap di hotel semalam. Paginya, aku balik ke kos Andes. Di sini lah aku akan tinggal selama di Tanjung Selor. Sayangnya, kosnya kosong karena Andes lagi dinas di luar daerah. Jadi lah dua hari selama weekend aku sendirian dan homesick sendiri di kos. 
 
Senin, 14 Juni 2021 akhirnya aku memulai kerja hari pertama ku. Dan dilanjutkan dengan hari-hari berikutnya. Sampai gak terasa udah sebulan lebih berlalu. It's fast but not easy, even I think I'm quite good enough to adapt my life here. 
 
So far, aku ngerasa lebih damai sih di tempat ini. Karena mungkin, terbantu sama kondisi kotanya yang cenderung lebih sepi dari Samarinda. Good place for healing lah dari hiruk pikuk kota yang terlalu pengap. 
 
Aku juga tumbuh lebih positif dan punya ruang untuk bergerak. Dulu, di Samarinda rasanya hidup ku terlalu monoton dan ruang gerak yang sangat sempit. Pergi ke tempat baru, rasanya seperti menemukan cahaya setelah melewati lorong gelap. 
 
Aku ga berharap banyak apakah hidup akan lebih baik di tempat ini. Tapi aku berdoa, semoga aku bisa selalu merasa lebih damai dan bahagia dimana pun aku berada. 
 
 
Doa yang sama untuk kalian semua, 
 
Love,

Khajjar. R


Spot favorit menuju tempat kerja


Menuju Berau

Didatangin Amel di bandara :D

Ini Bos Kantor yang jemput + ngantar Berau - Bulungan



Ingin cari spot foto yang menggambarkan kalo aku di Kaltara. Ya ini! Cukup representatif



Aku bukan tipe orang yang menghafal tanggal ulang tahun teman-teman. Punya geng kuliah yang isinya 11 orang, gak satu pun yang ku hapal ulang tahunnya (😆🤞peace). Beruntung, ada facebook yang selalu memberi tahu notif ulang tahun penggunanya. Dan kemarin, 27 November, Facebook mengingatkan kalau hari itu adalah hari lahir Nofita Andes Nurdiana.

Setelah ngucapin by personal chat di What's App. Terus mikir, kayanya bisa deh nulisin blog tentang dia untuk mengisi sekuel #HappyBirthday di blog. Mengingat, aku memang punya keinginan untuk menulis tentang orang-orang terdekat di hidupku. Selain untuk memberikan kenangan special, aku ingin mereka tahu, betapa berkesannya mereka dalam hidupku and how grateful I am to have them in my life... (*Tsah. Alay!)

Rata-rata memang ku tulis di hari ulang tahun mereka. Selain karena momentnya pas. Tulisan ini juga ku dedikasikan sebagai hadiah. Beberapa yang sudah ditulis, di antaranya:

https://khajjarrohmah.blogspot.com/2017/03/27th-february.html

https://khajjarrohmah.blogspot.com/2017/10/11-th-october.html

https://khajjarrohmah.blogspot.com/2017/10/15-th-october.html

https://khajjarrohmah.blogspot.com/2020/06/happy-birthday-amel.html 

And I'm so excited to welcome Nofita Andes Nurdiana to join the #hapyybirthday's sequel on my blog. Yay! 😇

***


Andes, adalah teman—sahabat + member istri sholehah 👉(https://khajjarrohmah.blogspot.com/2017/09/istri-sholeha.html). Dia adalah salah satu yang paling dekat sekaligus temen kelahi di bubuhan. Bahkan saking seringnya kami kelahi, kami dijulukin upin-ipin di grup. Dari segi sifat dan karakter kami juga punya banyak kesamaan. Itu lah yang bikin kami sama-sama gamau ngalah kalo lagi kelahi.  

Pertama kali kenal Andes, tentu saja di kelas perkuliahan. Karena kami, satu jurusan. Hubungan Internasional FISIP, Unmul. Dia, memang sudah mencolok sejak maba. Gayanya yang nyentrik, vokal di kelas, dan sangat talkative kepada siapa saja. Membuat dia cepat dikenal. Jalan mengenal Andes adalah takdir yang membuat kami menjadi satu bubuhan alias geng, yang terbentuk karena kecenderungan yang sama. -- Kelompok anak rajin -- pemburu nilai A di kelas -- datang lebih awal, -- duduk paling depan -- tidak pernah alpa absen -- dan berusaha bertanya saat dosen menjelaskan. Biar dinotice! 

Andes yang ku kenal selama kuliah, termasuk salah satu mahasiswa yang punya banyak ambisi. IP tinggi, organisasi, beasiswa, kursus, kerja, dan semua aktivitas ala mahasiswa rasanya pernah dia lakukan. Di akhir masa studi, dia lebih aktif di proyek penelitian. Hal yang mengantarkannya hingga ke dunia kerja saat ini.

Selama 7 tahun ini mengenal Andes, dia termasuk yang memberikan banyak positive impact buatku. Kenal dia sebagai teman survive semasa kuliah, cukup memberikan warna tersendiri. Dia juga jadi salah satu orang yang selalu ku mintai pendapat dan tempat berkeluh kesah. Terutama soal pekerjaan.

Karena menurutku, dia adalah salah satu orang di grup kami yang telah menemukan dream job-nya dia. Dream job ini bukan hanya sekedar kemapanan secara finansial, tapi lebih ke bagaimana kita menemukan pekerjaan yang kita sukai. Dan kita menikmatinya. Andes salah satu yang sudah ditahap itu.

“Kerja itu, kaya sekolah juga. Intinya kita disuruh belajar lagi. Bedanya, kita dibayar,”

Itu nasihat Andes soal kerjaan yang selalu ku ingat. Dia juga orang yang selalu jadi support systemku di masa-masa krisis. Dari jaman ngurus proposal dulu buat ikut HWMUN ke Italia, yang selalu support aku di kesibukan organisasi, dan yang selalu ngasih semangat selama ngerjain skripsi. Dia ngajarin, kalau semua hal, sesulit apa pun itu bisa tercapai. Asal kita mau usaha.

Banyak momen yang sudah kita lalui bersama. Baik itu di ishol, di kelas, di kepanitiaan, di Rome Squad, dan di prodi. Yang terakhir, meski pun banyak makan hati. Tetap menjadi kenangan yang memberikan banyak pelajaran.

Aku dan Andes, juga orang yang selalu bisa menikmati hal-hal menyenangkan dimasa genting. Contohnya, waktu kita akhirnya bisa pergi ke Eropa. Setelah perjuangan panjang yang kita lalui. Kita sepakat untuk menganggap perjalanan itu tetap worth it. Terlepas dari masalah sebelum, selama, dan setelah keberangkatan.

Sekarang kita punya kehidupan masing-masing pasca kampus. Andes dengan pekerjaannya di NGO yang selalu pindah-pindah lokasi di pedalaman Kalimantan. Dan aku kini yang bekerja di perusahaan media. Kalau dipikir-pikir, pekerjaan yang kami berdua jalani. Emang gak jauh-jauh dari aktivitas kami di kampus dulu. Sejak di kampus, Andes sudah aktif sebagai enumerator penelitian ilmiah. Sekarang, pekerjaan dia juga berkutat di research project. Sementara diriku, yang aktif di pers mahasiswa selama kuliah. Kerjanya juga nyemplung lagi dibidang itu. 

Dari jaman kuliah, Andes ini jadi motivasi buatku. Karena dia salah satu mahasiswa berprestasi di kelas. IP-nya pernah tembus 4,0 coy. Dia juga yang jadi patokanku selama ngerjain skripsi. Kalau Andes sudah sidang 1, aku juga harus segera. Begitu seterusnya sampai wisuda. Walau jarak lulusnya beda 1 tahun. T_T

Dia juga selalu jadi kebanggan dosen dan wakil kating abadi di kelas, yang dengan senang hati ngehandle semua tugas dan peran sang kating. Andes ini agamanya juga masha Allah kuat banget. Dia selalu ngingatin shalat pakai bahasa malaikat Izrail. “Heh shalat, nanti kalau kamu kenapa-kenapa di jalan gimana? Jangan sampe kita mati dalam kondisi belum shalat.” (Izrail kau?)

Setiap kali Andes punya kesempatan pulang ke Samarinda kita pasti luangin waktu untuk quality time berdua. Rasanya menyenangkan, punya teman yang satu pemikiran, se-prinsip, dan saling memberikan energi positif. Andes yang berkepribadian periang dan social butterfly memang membuat semua orang nyaman untuk berada didekatnya. 

I am so happy to welcome you into the 26th life. May your life will be filled with happiness. And a bright future will coming up. You're such a good person who gives the happy virus to others. Hopefully all your plans will be accomplish soon. And in the very near time, I wish your big day preparation will be successful!

Alles Gute zum Geburtstag, Andes! Happy Birthday. . .

Love ya ❤️‍🔥

Samarinda, 27 November 2020

Your "Upin",

-- Ujur --

Older Posts Home

Best of Mine

Best of Mine
Don't judge me too much if you don't know me too well

ABOUT AUTHOR

Suka Nulis || Suka Cerita || Suka Hal Baru || Dan Suka Kamu!! Terima Kasih Sudah Berkunjung :D

AmazingCounters.com

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  August (1)
      • Terima Kasih, Pak Faisal dan Bu Irene
  • ►  2025 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (9)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2018 (15)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Article
  • Impression
  • Prolife
  • Travelog

POPULAR POSTS

  • CATATAN SKETSA: JADI GINI RASANYA DEMIS. . .
  • 15 TH OCTOBER
  • CATATAN SKETSA: BEHIND THE SCENE (BTS) BINCANG EKSKLUSIF BERSAMA PAK REKTOR
  • Review Film: Dilan 1990

Copyright © 2016 THE CORNER OF MY WORLD . Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates