Terima Kasih, Pak Faisal dan Bu Irene
Tulisan ini aku dedikasikan untuk dua mantan pimpinanku di kantor, Bapak Muhammad Faisal, S.Sos, M.Si dan Ibu Irene Yuriantini, S.Hut, MP.
Aku bergabung di Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur (Diskominfo Kaltim) pada 1 Juli 2022. Dan kalau dipikir-pikir, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi kalau bukan karena satu orang: Pak Faisal.
Sebenarnya kami sudah saling mengenal jauh sebelum aku menjadi staf beliau. Waktu itu aku masih bekerja sebagai wartawan, sementara beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian Kota Samarinda.
Aku mengenal beliau dalam status sebagai wartawan dan narasumber.
Kesan pertamaku saat bertemu beliau, sederhana. Tapi membekas. Beliau adalah pejabat yang ramah, komunikatif, dan super chill. Beliau bersedia diwawancarai langsung oleh wartawan junior yang bahkan belum beliau kenal sama sekali. Hal yang ternyata tidak selalu kutemui ketika meliput pejabat lain.
Singkat cerita, setelah beberapa tahun bekerja di media, aku mulai merasa lelah. Burnout. Aku menghubungi banyak relasi untuk mencari informasi lowongan pekerjaan.
Salah satunya adalah Pak Faisal.
Beliau menjadi orang yang paling cepat merespon.
Aku masih ingat, waktu itu aku sedang berada di Tanjung Selor. Kami hanya berkomunikasi lewat WhatsApp. Berkas lamaranku pun kukirim melalui Kantor Pos.
Beberapa waktu kemudian, aku diterima bekerja.
Aku ditempatkan di Bidang Informasi, Komunikasi Publik, dan Kehumasan (IKP) di bawah kepemimpinan Bu Irene.
Empat tahun berlalu begitu cepat.
Kini keduanya telah mengemban amanah baru. Pak Faisal menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, sementara Bu Irene dipercaya menjadi Sekretaris Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur.
Bersama mereka, aku belajar banyak hal. Bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang kepemimpinan.
Karena pada akhirnya, jabatan akan selalu berganti. Posisi akan selalu berpindah. Tetapi cara seseorang memperlakukan orang lain, itulah yang akan selalu dikenang.
Dan begitulah aku akan mengingat mereka.
# Pak Faisal: Pemimpin yang Selalu Tenang
Aku akan selalu mengingat Pak Faisal sebagai orang pertama yang mengulurkan tangan di masa paling sulit dalam perjalanan karierku.
Kalau hari ini aku bisa berada di tempatku sekarang, ada jasa beliau di dalamnya. Dan itu adalah utang budi yang akan selalu kuingat.
Selama hampir empat tahun menjadi staf beliau, aku belajar begitu banyak tentang komunikasi publik.
Mulai dari membangun relasi dengan media, menyusun strategi diseminasi informasi pemerintah, sampai menghadapi berbagai krisis komunikasi.
Ada masa ketika hampir setiap hari kami membuat klarifikasi terhadap isu yang berkembang. Rasanya pekerjaan tidak pernah sepi.
Yang membuatku kagum, di tengah tekanan sebesar itu, aku hampir tidak pernah melihat beliau marah.
Padahal bebannya luar biasa.
Beliau tumbuh dari pengalaman puluhan tahun di dunia kehumasan. Pengalamannya terasa dalam setiap keputusan yang diambil.
Hal yang paling kusukai dari gaya kepemimpinannya adalah ketenangannya.
Beliau tidak pernah memimpin dengan bentakan.
Tidak pernah menunjukkan emosi hanya karena pekerjaan sedang menumpuk.
Bahkan ketika memberi tugas kepada staf, beliau selalu memulainya dengan satu pertanyaan sederhana:
> "Sibukkah?"
Kelihatannya sepele.
Tetapi buatku, pertanyaan itu menunjukkan satu hal: beliau peduli dengan kondisi bawahannya.
Sebagai staf, tentu jawabannya hampir selalu sama.
"Siap, stand by Bapak."
Meski saat itu pekerjaan juga sedang menggunung.
Satu hal lagi yang selalu membuatku heran sampai sekarang adalah kebiasaan beliau membalas pesan.
Dengan posisi sebagai kepala dinas, aku yakin setiap hari ada ratusan chat yang masuk ke ponselnya.
Tapi entah bagaimana, hampir semuanya, dibalas.
Cepat pula.
Super fast response! 👏🏻
## Bu Irene: Boss Perempuan yang Mematahkan Stereotip
Kalau Pak Faisal kuingat sebagai pemimpin yang tenang, maka Bu Irene akan selalu kuingat sebagai atasan berhati sangat baik.
Pernah dengar anekdot ini?
> "Ada dua hal yang selalu benar di dunia ini. Pertama perempuan. Kedua bos. Jadi kalau bosmu perempuan, ya sudah... selesai."
Entah siapa yang membuat lelucon itu.
Tapi menurutku, Bu Irene adalah antitesisnya.
Beliau justru menjadi salah satu boss perempuan paling menyenangkan yang pernah kutemui.
Tidak pernah marah.
Perhatian.
Royal.
Beliau memperlakukan staf dengan sangat manusiawi.
Beliau sering membelikan kue ulang tahun untuk stafnya, satu per satu.
Cara beliau berbicara pun terasa akrab.
Tidak ada jarak yang kaku antara atasan dan bawahan.
Bahasa yang digunakan pun sederhana.
"Aku-kamu."
Bukan "saya-kalian."
Suasananya terasa seperti berbicara dengan teman.
Kami bahkan pernah mengobrol dan saling bercerita sampai pukul dua dini hari ketika sedang dinas luar kota.
Rasanya bukan seperti sedang bersama atasan. Lebih seperti sedang berbincang dengan seorang sahabat.
Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih sering membuatku tertawa kalau mengingatnya.
Pernahkah kalian dijemput bos ke kos hanya untuk pergi menghadiri kondangan?
Aku pernah.
Dan yang menjemput adalah Bu Irene.
Jujur saja, rasanya sungkan sekali.
Tapi bagaimana lagi, diri ini kan belum punya mobil.
Momen-momen kecil seperti itulah yang justru paling membekas.
Karena kadang, kepemimpinan tidak selalu terlihat dari keputusan besar atau pencapaian yang gemilang.
Justru ia hadir lewat perhatian-perhatian sederhana yang membuat orang merasa dihargai.
Terima kasih, Pak Faisal.
Terima kasih, Bu Irene.
Terima kasih sudah menjadi pemimpin yang bukan hanya mengajarkan cara bekerja, tetapi juga memberi contoh bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat, empati, dan ketulusan.
Semoga amanah di tempat yang baru selalu diberi kemudahan.
Dan semoga, suatu hari nanti, kalau aku diberi kesempatan memimpin orang lain, aku bisa meneladani hal-hal baik yang pernah beliau-beliau tunjukkan.
Sekali lagi,
Terima kasih Pak Faisal
Terima kasih Bu Irene
Best regards🤝🏻
Khajjar 🙏🏻














0 komentar