THE CORNER OF MY WORLD

Everyone has a story of their life. Here are mine: stories about love, friendship, family, dreams, and hopes, all set in the corner of my world. Fortunately, despite this big world, I have found my own little corner :D

Powered by Blogger.
Biarkanlah hari terus berlari
Tetaplah jadi manusia mulia, apapun yang terjadi
Janganlah galau dengan tiap kejadian sehari-hari
Karena tak ada yang abadi, semua kan datang dan pergi
Jadilah pemberani melawan rasa takutmu sendiri
Karena lapang dan tulus adalah dirimu sejati
Janganlah pandang hina musuhmu 
Karena jika ia menghinamu, itu ujian tersendiri bagimu

Takkan abadi segala suka serta lara
Takkan kekal segala sengsara serta sejahtera

Merantaulah. Gapailah stinggi-tingginya impianmu
Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji,
serta meluaskan ilmu

Syair Imam Syafii (767-820 M) dalam novel 'Rantau' karya A.Fuadi


Dear sahabatku

Hai, gengs apa kabar? Kaget yaa tiba-tiba gue posting foto di Eropa!? Jangankan kalian, gue aja kaget, rasanya masih gak percaya beneran ada di tanah Eropa. Tapi yang perlu kalian tau, perjuangan gue menuju kesana itu gak tiba-tiba. Maaf juga untuk kejarangan komunikasi kita selama ini, karena kesibukan rutinitas kuliah setiap hari. 

Jadi gue ke Eropa, tepatnya di Eropa Selatan, lebih tepatnya lagi di Ibukota Italy, Roma bukan sekedar pelesiran. Gue sebagai delegasi Unmul  untuk Harvard World Model United Nations (HWMUN). Mungkin kalian pernah denger Model United Nations (MUN), itu semacam simulasi sidang ala PBB, jadi setiap delegasi atau peserta hadir sebagai representasi suatu negara yang berperan sebagai diplomat dalam sebuah sidang komite PBB. 

Hampir seluruh Universitas di seluruh dunia bahkan di Indonesia sendiri, banyak yang  ngadain MUN, nah HWMUN itu yaa MUN juga cuma tingkat internasional yang diadain sama mahasiswa Harvard setiap tahun. Tahun lalu di Seoul lho, tahun depan denger-denger di Columbia, kali aja kalian berminat. Total delegasi Unmul ada tujuh orang, 5 mahasiswa sebagai delegasi dan 2 dosen sebagai Faculty Advisor. Acaranya sendiri ada 5 hari 14-18 Maret. (Baca di http://www.unmul.ac.id/read/news/2016/681/lima-mahasiswa-unmul-ini-ikuti-harvard-world-model-united-nations-.html)
Delegasi Unmul for Harvard World Model United Nations 2016

Lima kali sidang komite dan sisanya agenda –agenda yang lain kayak social event yang ke Vatican City ketemu Paus Francis, Global Village, kami pameran kerajinan khas Kaltim, sama Resolution Social Venture Challenge (RSVC) itu persentasi proyek social gitu. FYI kami masuk 19 besar loh. Proyek social kami ngangkat kebersihan untuk Sungai Karang Mumus gitu di Samarinda. (Baca selengkapnya di http://sketsaunmul.co/public/berita-kampus/mahasiswa-unmul-masuk-19-besar-proyek-sosial-internasional/baca)  sisanya party-party gak jelas gitu, dan kami gak ikut sama sekali untuk party, karena tiap malam pasti kecapean di komite seharian dan pulang pergi jalan kaki. 
 
Untuk proses kenapa gue bisa ikut MUN sendiri, apalagi yang sekelas Harvard kayak gini, gak ada yang special sih. Prosesnya dimulai ditahun 2015. Gue di ajakin sama dua temen gue (itu di bulan September), jadi yaa mereka berdua foundernya. Dan mereka berdua emang freak banget dikelas, study oriented tulen dan ambisius gila. Makanya bener kalo siapa kita itu tergantung dengan siapa kita berteman. Jadi mereka rekrut gue, dan gue langsung terima (siapa yang gak mau coba) kemudian ngajak dua temen gue lainya. 

Kita daftar di bulan November, itu sudah gelombang kedua, karena saat registrasi kita sudah harus bayar, dan kami nungggu beasiswa PPA cair dulu. Untungnya kita belima dapet beasiswa itu. Gue lupa berapa dolar pendaftranya, yang jelas sekitar 3jt rupiah. Semua proses registrasi dan representasi negara dan segala keperluan MUN lainya di ururs via internet, manajemen web mereka emang keren banget. Sementara itu delegasi gue sepanjang September-H-1 keberangkatan masih terus nyebar proposal dan cari dana. Dan kalian tau apa cobaan terbesar gue di tengah jalan? Tepat pada hari sumpah pemuda, 28 Oktober 2015, gue kemalingan di rumah. Laptop dan tas kuliah gue raib digondol maling. Padahal laptop gue baru beli di bulan Januari yang gue beli pake duit beasiswa, gak cukup sampai disitu, paspor gue ada didalam tas, kebayang nggak gue bisa gagal berangkat karena gak punya paspor.  
Tas gue yang hilang (tear)
 
Cuma ada temen yang membesarkan hati sih, Tuhan kan pasti membalas yang lebih baik, mungkin ini pertaruhan untuk keberangkatan gue ke Roma, lagian sejak gue ikut bedah bukunya Tere Liye di tahun 2014, gue sadar banget makna kehilangan. Bahwa kehilangan menyadarkan kita tak ada satupun yang kita miliki di dunia ini. Semua titipan.

Gue emang ambisius, tapi mudah legowo. But, bukan berarti berhenti berusaha, gue tetap ngurus paspor gue yang hilang ke kantor imigrasi, dan itu ribet banget gila., Dengan ancaman paspor gue gak bisa diterbitkan atau ditangguhkan enam bulan plus udah nangis-nangis di kantor polisi akhirnya dari November gue ngurus, Januari paspor gue bisa keluar. 

22 Januari kami ngurus visa ke Jakarta, Alhamdulillah gue dapet beasiswa kaltim Cemerlang, itu yang gue pake buat ngurus visa ke Jakarta (gitu enaknya kuliah di Kaltim). Kami bikin visa Schengen, artinya visa kami berlaku untuk memasuki seluruh negara di Eropa (yang meratifikasi perjanjian Schengen, karena gak semua negara meratifikasi itu contohnya Inggris). Biaya visanya  itu 60 Euro, hitung sendiri dikali 15 ribu rupiah, belum tiket pp Bpp-Jkt. Jadi untuk meminimalisir estimasi biaya, kita sehari aja di Jkt. Berangkat jam 6 pagi pulang jam 6 sore. Bayangin gue baru pertamakali ke ibukota negara kita, dan lari-lari dikejar waktu buat ngurus visa dalam sehari. 

Biar cuma sehari, sempetin ngeksis depan pagar Monas :D

Dan persyaratan ngurus visa itu ribet banget. Kita harus memenuhi persyaratanya dengan rinci. Kayak dinegara yang kita tuju kita mau ngapain, harus sudah punya bukti booking tiket pesawat dan hotel, harus punya asuransi, rekening tabungan lo berapa dan lain-lain. Untungnya kami punya invitation delegasi dari panitia kan, jadi kami daftar visa undangan resmi, bukan sebagai turis. 

Setelah pendaftaran visa, kita harus nunggu 2 minggu buat tahu visa kita disetujui atau nggak. Dan itu kemungkinanya fifty-fifty. Jadi kalau visa kami ditolak yaa, mau gak mau kami gagal berangkat dan biaya kurang lebih 3jt buat ngurus visa hangus gitu aja. Itu kejamnya ngurus visa, gila kan?!

Tapi Alhamdulillah banget visa kami bertujuh akhirnya diterima, dan ternyata bentuknya visa itu, seumur-umur gue baru tau, itu semacam sticker selebar sedikit lebih besar dari KTP yang ditempel didalam lembaran paspor kita. 

Akhirnya tanggal 10 Maret kita berangkat menuju Roma, penerbangan dari Singapore-Roma transit dua kali di Colombo, Srilanka dan Dubai. Bayangin guys, Dubai. Gue inget banget pas kelas XI atau XII dalam pelajaran Bahasa Inggris, guru gue pernah nanya, kita pengen kemana dan mau ngapain di negara tujuan kita?  Waktu itu gue jawab, gue pengen ke Dubai karna mall termegah di dunia ada disana. Dan akhirnya gue beneran ke Dubai, walaupun Cuma di bandaranya aja, at least itu juga Dubai. 

Kami naik Emirates, jangan tanya tiketnya berapa, bisa sekali ibadah umrah ke Mekah. Dan jangan kira juga kami banyak duit. Uang sponsor itu gak seberapa dan uang dari kampus belum bisa cair sebelum ada LPJ. Tapi mahalnya tiket pesawat kebayar sih sama fasilitasnya. Gue kira kan gue bakal bosen banget 6 jam perjalanan didalam pesawat. 2 jam Balikpapan-Jakarta aja gue kedinginan dalam pesawat.


 Tapi ternyata geng, penerbangan luar negeri itu asyik banget. Betah banget gue dalam pesawat. Setiap kursi ada bantal, selimut, headset plus monitor didepan kursi, bisa nonton film, main game dan dengerin music. Yang paling asyik, dapat makan. Kalo ngelewatin tiga kali waktu makan yaa lo dapet ketiganya, breakfast, lunch and dinner. Belum lagi mau ngemil apapun. Amazingnya lagi nuansa internasionalnya kerasa banget kan, cause everyone are speaking in English. Dan kebayang nggak di atas pesawat, kita itu ngelewatin Samudera Hindia, Pegunungan Everest, atau Bukit Sahara? Fa bi ayyi aalaa irobbikuma tukaddhiban.
 
Dan karena naik pesawat Arab, jadi ada dua bahasa arab dan English, sebelum terbang biasanya sang pilot juga selalu baca doa atau ayat al-quran. Allahuakbar. Yah walaupun pramugarinya gak berjilbab hehe.

Kami sampai di Eropa Sabtu siang 12 Maret, sedangkan conference baru hari senin. Jadi kami punya waktu 2 hari buat adaptasi, hapal jalan, dan jalan-jalan, haha. Minggunya, kami ke Coloseum, itudah yang gue posting pake jaket Kaizen. Kami tinggal di Hostel, jadi satu kamar muat kami bertujuh, kayak asrama gitu. Ada 8 bed dalam satu kamar. Untuk transportasi selama disana kami beli tiket yang disediain panitia, 30 dolar selama 5 hari untuk semua transportasi umum. Bus, metro, train, dan trem. Apa bedanya? Kalo metro itu kereta bawah tanah, kalo train, kereta api kayak di Indonesia, dan trem itu kereta listrik, ada jalurnya sendiri di atas jalan aspal. Itu asyiknya di Eropa, semua serba dinamis dan cepat, include transportasinya. Gue naik metro aja cepet banget, gimana rasanya naik Shinkanshen yaa, 

Terus, hari pertama conference. Baru registrasi, dan opening ceremony. Kalian tau berapa peserta dari seluruh dunia? 2.400 delegasi dari seluruh dunia dengan representasi sebagai negar-negara anggota perwakilan PBB. Delegasi kami sendiri dapat representasi negera Dominica, sebuah negara persemakmuran Inggris di Kepulauan Karibia dan Amerika Latin. Kami terbagi ke dalam 2 council dan 3 committee. 2 orang di Disarmamen and International Security Committee (DISEC) di General Assembly, 2 orang di World Conference on Women dan 1 orang di Community of Latin America and Carribean State (CELAC)  di Economic and Social Council and Regional Bodies (ECOSOC). Gue di World Conference On Women. 

Seru banget loo ketemu sama mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Gue kira kan gue bakal terintimidasi sama mereka, karna mereka pasti bukan mahasiswa biasa. Mahasiswa yang ikut MUN itu terkenal adalah mahasiswa yang pinter, kaya, dan ambisius. Tapi ternyata nggak loh, mereka semua, semua. Ramah banget gila. Kita saling kenalan, basa-basi asal negara, and always find something interesting in each chat. Kayak kenalan gue dari Jerman, namanya Jam, dia ternyata bisa bahasa Indonesia karna pernah 4 bulan ikut short interchange di Universitas Udayana, Bali. Dan dia datang sebagai delegasi bareng pacarnya, so sweet gila. 
Bersama jam dan pacarnya

Lebih seru lagi kami ketemu beberapa mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Contohnya Kevin Muchtar, dia dari Jakarta dan lagi kuliah di Skotlandia, ikut MUN sebagai single delegate. Artinya tanpa tim. Gak seperti kami. 
Kevin yang paling kiri.
Sebenarnya kami merasa terintimidasi malah sama mahasiswa dari Indonesia sendiri. Terutama yang dari UI,Unpad, sama Undip. Gila kan jangan sampe kita kalah pintar dari mereka, walaupun unfortunately yes. Pantas aja sih sebenarnya, mereka sudah sering latihan karena di kampus mereka MUN sudah jadi UKM. Bahkan mereka juga ngadain MUN di univ mereka. Lah Unmul? Bisa berangkat aja mah udah syukur. 

Selama sidang dalam komite berjalan lancar sih, Cuma gue pribadi agak kesusahan memang dalam memahami isi sidang. Pertama karena semua orang ngomongnya cepet banget, apalagi di unmoderate caucus, gue harus ekstra fokus buat mahamin apa yang merka maksud. Dan pas nyusun working paper sama draft resolution, itu kita kayak nyusun pasal dalam sebuah perjanjian. Karena harus pake bahasa inggris yang formal banget, kayak addressed, calling for, affirming, dll.
But, so far gue nikmatin sih. Karena itu pengalaman baru buat gue. 

Yang paling berkesan diluar konferensi itu, dihari terakhir habis closing ceremony, Jumat 18 maret kami bareng seluruh delegasi dari Indonesia berkunjung  ke KBRI di Roma. Gila disitu, suasana cair banget. Kita semua jadi kayak acaraan keluarga besar dihari lebaran. Semua delegasi Indonesia yang sebelumnya agak gak ramah dan sedikit mengintimidasi dengan kepintaran mereka selama conference juga tiba-tiba berubah jadi akrab banget. Dan yang palin special, gua jadi perwakilan dari delegasi unmul yang ngomong lo didepan KBRI. 

Itu karena kebetulan, sebelum sesi ramah tamah di KBRI, kami kan pada sholat di musholanya. Terus gue ketemu beberapa bapak-bapak yang baru selesai sholat, dan ngobrol-ngobrol sedikit. Ada salah satu bapak yang sempet ngobrol akrab sama gue, dan gue gak mungkin nanya kan “bapak apa jabatanya disini?” pas dia Dubesnya kan mati gue. Jadi yaa ngobrol aja terus. Kemudian beliau duluan naik, dan gue baru mau sholat.

Pas masuk ke ruang KBRI untuk sesi ramah tamah itu, kaget gue ternyata bapak yang ketemu di musholla itu ternyata Wakil Dubes KBRI, Pak Des Alwi namanya, dia yang nyambut kedatangan kami. Jadi pas dia ngasih kesempatan setiap perwakilan universitas buat ngomong, dia nunjuk gue. How luck of me.



Habis itu makan-makan, menunya mie ayam. Daebakk, gue gak tau darimana itu dapat bumbu bisa bikin mie ayam di Eropa. Dan gue rasa itu mie ayam yang paling enak yang pernah gue makan. 


Besoknya, Sabtu 19 Maret, kami berangkat ke Jenewa, Swiss. Kan rugi ke Eropa, punya visa Schengen tapi gak kemana-mana. Jadi kami putuskan untuk ke Eropa karena banyak kantor-kantor perwakilan PBB disana. Perjalanan Roma-Jenewa bisa di tempuh by train atau pesawat. Kami naik pesawat. Gak ada yg istimewa sih di jenewa, kami Cuma semalam dan foto-foto didepan markas besar PBB, kantor UNHCR sama Red Cross. 
Di depan Markas Besar PBB, Jenewa Swiss
Terus balik ke Italy, sempat tidur semalam lagi dan balik ke Indonesia Senin 21 Maret. 2 hari perjalanan yang sama. Roma-Dubai-Singapore-Jakarta-Balikpapan dan touch down di Samarinda Rabu malam.
Selesai.

Maaf yaa panjang, abis gue gak tau kalau cerita harus mulai dari mana. Dan kalian kan tau, gue kan emang seneng kalo disuruh cerita. Lagian kalo ini cerita langsung, lisan, pasti gak nyampe 30 menit kok. Hehe

Cerita ini  gue ketik saat perjalanan pulang dari Dubai. Awalnya cuma buat dua sahabat gue yang penasaran gue bisa nyasar ke Europe, terus karena banyak yang minta forward, akhirnya gue post juga di blog. 
Semoga jadi motivasi semangat kalian yaa. Dan semoga kalian juga berkesempatan mengunjungi negara yang kalian inginkan.
Keep in touch on FB,Line or Instagram yaa.
Bye
Best,
Khajjar Rohmah

Tahun 2O13, saat Percepatan Adaptasi Mahasiswa baru atau PAMB. Ada seorang senior yang persentasi tentang organisasi kampus di depan seluruh mahasiswa baru pada saat itu. Setelah dia berbicara panjang lebar, barulah dia teringat ternyata dia belum memperkenalkan namanya. 

"Oh iya, saya belum menyebutkan nama saya. Ah tapi apalah artinya sebuah nama!?" ucapnya diakhir pidatonya, meski akhirnya dia tetap menyebutkan namanya. 

Mungkin menurut sebagian orang, nama bukanlah suatu hal yang penting. Bahkan beberapa orang, ada yang tidak suka dengan nama yang dia sandang. Karena namanya aneh, primitif, dan sebagainya.
Dulu sewaktu kecil, aku juga tidak terlalu senang dengan namaku. Karena nama Khajjar Rohmah menjadi bahan olok-olok teman-temanku. "Hajar hajar, awas kamu nanti di hajar sama Khajjar"

Karena olok-olok teman-temanku, aku sampai merajuk kepada sang pemberi nama, bapak. "Pak aku mau ganti nama. Aku diolok terus sama teman-temanku" rayuku kepada bapak. 
"Biarkan saja, yang ngolok itu berarti gak tau artinya. Kalo tau pasti gak berani ngolok, namamu itu bagus artinya" kata bapak menenangkanku. "Memang apa artinya?" tanyaku balik. 
"Khajjar Rohmah, Khajjar itu batu, Rohmah itu kasih sayang. Jadi artinya batu kasih sayang" jawab bapak menjelaskan.
"Hah? Artinya?" tanyaku lagi merujuk pada makna. "Yaa artinya kamu akan selalu menjadi anak yang disayang" jawab bapak simpel sambil menciumku. 
Aku benar-benar tidak puas dengan jawaban bapak saat itu. Meski aku sudah tau arti namaku, aku tetap tidak nyaman dengan namaku. Karena orang-orang dikampung tidak ada yang bisa melafadzkan nama panggilanku dengan benar. Khajjar tapi terdengar Hajar, Ajar, atau Anjar.

Tetapi mindsetku berubah saat aku duduk dikelas satu MTs [Madrasah Tsanawiyah]. Dari yang sebelumnya sangat tidak nyaman,sejak saat itu aku menjadi bangga dengan namaku. Hal itu berkat jasa seorang guru Matematika yang menjelaskan makna namaku. Bapak Abdul Fatah. Kami biasa memanggilnya Pak Fatah. 

Katanya namaku ini memiliki makna yang sangat dalam. Dan nama calon orang besar. Khajjar artinya batu. Sebagaimana kita ketahui, batu adalah benda yang sangat kuat. Sebagai pondasi sebuah bangunan yang kokoh. Artinya aku akan menjadi pribadi yang berpendirian teguh dan memiliki tekad yang kuat. Tetapi sekeras apapun batu, dia tetap bisa dihancurkah oleh air. Seperti kisah dalam Alquran batu yang mengeluarkan sumber mata air berdasarkan perintah Nabi Musa. Artinya sekeras apapun diriku aku teap memiliki hati yang cair. 

Guruku itu juga mengaitkan namaku dengan kisah Ibnu Hajar. Ulama terkenal di zamanya yang terinspirasi dari sebuah batu sehingga ia dijuluki Ibnu Hajar, anak batu. Beranjak ke nama belakang, Rohmah. Artinya rahmat Tuhan. Jadi itu adalah doa supaya aku selalu dirahmati oleh Sang Maha Pencipta. Khajjar Rohmah, batu yang dirahmati.

Sejak saat itu aku menjadi begitu bangga, bukan hanya dengan namaku tapi juga kepada bapak, sang pemberi nama. Padahal bapak tidak tau berbahasa arab, tapi bisa merangkai nama dengan makna begitu dalam dengan bahasa Arab. Hal itu juga kusadari dari nama kakak dan adik perempuanku. Nama mereka juga berbahasa Arab dengan arti yang sangat indah. Luluk Munawaroh artinya mutiara bersinar dan adikku Qoriyatul Hidayah artinya pembaca petunjuk.

Sebenarnya bapak berharap adikku adalah laki-laki karena sudah memiliki dua anak perempuan, aku dan kakakku. Sehingga ia telah menyiapkan sebuah nama untuk anak laki-laki. Nun Furqon. Terdengar simpel, tapi maknanya begitu kuat.
"Nun kan ayat mutasyabihat tidak ada yang tau artinya kecuali Allah. Furqon itu nama lain dari Alquran artinya pembeda dari yang haq dan yang batil. Jadi sebenarnya Nun Furqon itu merujuk kepada satu intinya, Alquran" jelas bapak saat aku bertanya arti nama Nun Furqon. Karena adikku perempuan akhirnya nama itu diberikan kepada keponakan bapak. Alfian Nunfurqon.

Bapak, sang pemberi nama
Selama dikampung, mungkin hanya akulah satu-satunya pemilik nama dengan arti batu itu. Tetapi ketika aku masuk pesantren, banyak sekali yang juga menyandang nama tersebut. Merujuk pada arti yang sama, batu. 
Walaupun penyebutanya berbeda dalam bahasa Indonesia. Ada Nur Hazarul Aswadiah dan Hajar Muslim. 
Untuk membedakan namaku dengan dua nama temanku yang lain itu. Aku dipanggil Hajaroh oleh teman-temanku. Singkatan dari Khajjar Rohmah. Dan itu berlaku sampai aku kuliah. Penyelewengan fatal sebenarnya. 

Berbeda dengan teman-temanku. Ustadzah-ustadzahku di pesantren memanggil namaku "Khojjar" karena dalam bahasa Arab kata 'Kha' dalam bahasa Indonesia adalah ejaan untuk huruf hijaiyah ketujuh setelah jim dan ha, kho. Jelas artinya bukan batu karena batu dalam bahasa arab  terdiri dari tiga huruf hijaiyah ha, jim, dan ro. Sehingga tulisanya dalam bahasa Indonesia adalah 'hajar' tanpa jim bertasdid. Bukan 'khajjar' seperti namaku. Sesering apapun aku menjelaskan kepada ustadzah bahwa namaku hanya kesalahan dalam bahasa Indonesia namun dalam bahasa arab tetap berarti batu, tetap saja beliau-beliau memanggilku 'Khojjar'.


Tulisan namaku dalam bahasa Arab
Itulah arti sebuah nama yang begitu dalam untukku. Karena nama adalah doa dari orang tua. Terdapat harapan dan cita-cita dalam sebuah nama. Nama yang kita pegang sampai akhir, sampai mati, bahkan di pengadilan tertinggi di hadapan Tuhan kelak, di yaumul hisab kita akan dipanggil dengan nama kita.

Hai hai
WELCOME TO THE CORNER OF MY WORLD !!!

Selamat datang di blog pertamaku dan satu-satunya. Perkenalkan namaku Khajjar Rohmah. Nama yang indah dari seorang ayah untuk anak perempuan keduanya. Aku lahir dan besar di daerah bagian selatan Kalimantan Timur, Penajam Paser Utara [PPU]. Lahir ditanggal yang menurut sebagian orang adalah angka sial, 13. Bulan Oktober 1994.

Sekarang sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri  tertua dan terbesar di Kalimantan Timur, Universitas Mulawarman. Di Program Studi Hubungan Internasional  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dan sedang menikmati semester 5 sembari aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Sketsa.

Keinginan untuk punya blog sebenernya udah lama. Tapi baru kesampaian sekarang. Soalnya dari kecil udah suka nulis diary sih. Apalagi pas masuk pesantren. Tiga tahun selama di pesantren udah punya tiga buku diary. Setiap tahun khatam satu, tinggal nunggu penerbit yang mau nerbitin, haha.

Terus selama kuliah ini kan aku juga aktif jadi jurnalis kampus. Yang tiap hari ngejar deadline berita. Jadi blog ini dibuat sebagai hiburan dari kesuntukan menulis berita. Paling nggak, bisa sedikit keluar dari unsur berita yang 5W+1H. Dan bisa nulis sesukanya tanpa harus mendengar rekaman narasumber.

Untuk seterusnya, blog ini akan berisi tentang aku, mimpiku, rutinitasku sehari-hari, dan orang-orang yang aku cintai serta menginspirasi dalam hidupku. Walaupun mungkin akan sedikit membosankan, karena duniaku tidak selalu mengisahkan mimpi-mimpi yang indah. Kadang bisa terambung tinggi dengan mimpi namun terhempas begitu saja oleh realita.

Yaah, tapi begitulah hidup. Life is never flat. Dinikmati saja.






Newer Posts Home

Best of Mine

Best of Mine
Don't judge me too much if you don't know me too well

ABOUT AUTHOR

Suka Nulis || Suka Cerita || Suka Hal Baru || Dan Suka Kamu!! Terima Kasih Sudah Berkunjung :D

AmazingCounters.com

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  November (1)
      • Happy Birthday Ayu!
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (9)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2018 (15)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Article
  • Impression
  • Prolife
  • Travelog

POPULAR POSTS

  • CATATAN SKETSA: JADI GINI RASANYA DEMIS. . .
  • 15 TH OCTOBER
  • CATATAN SKETSA: BEHIND THE SCENE (BTS) BINCANG EKSKLUSIF BERSAMA PAK REKTOR
  • Review Film: Dilan 1990

Copyright © 2016 THE CORNER OF MY WORLD . Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates