THE CORNER OF MY WORLD

Everyone has a story of their life. Here are mine: stories about love, friendship, family, dreams, and hopes, all set in the corner of my world. Fortunately, despite this big world, I have found my own little corner :D

Powered by Blogger.
Hai, I am coming back again with my story. Setelah nulis ‘Catatan Sketsa: Jilid Satu’ tentang curahan hati demisnya saya. Sekarang saya mau cerita lagi tentang salah satu momen berkesan di Sketsa. Maaf yaa random gini. Karena saya emang lagi banyak pikiran. Berantakan banget ini dalam kepala.
Sebenernya kalo mau urut, harusnya saya cerita dari awal gimana saya masuk Sketsa, jadi anggota magang, staf redaksi sampai ketua umum. Tapi karena isi kepala saya lagi semerawut, saya mau nulis yang pas lagi lewat dikepala saya. Buka laptop, itu yang tepikir,, yaa itu yang saya tulis. Dari pada nyari-nyari lagi ingatan tiga tahun lalu yang gak tau keselip di otak bagian mana.  
Oke, let’s begin the story. . .
Saya mau cerita tentang behind the scene-nya pas kita syuting Bincang Eksklusif. Jadi Bincang Eksklusif (anak Sketsa nyingkatnya Bisul) itu adalah salah satu program dari Sketsa Production yang emang udah disusun sejak awal bersama 3 program lainnya. Yaitu Katalis, Sketsapedia dan Catatan Sketsa. Cuma karena kendala ini dan itu, Bincang Eksklusif baru rilis di masa akhir kepengurusan. Itu pun dengan motivasi ‘kejar setoran’ sebelum Mubes.
Oh ya, sekedar informasi Sketsa Production adalah produk baru LPM Sketsa tahun 2017 dibidang videografi yang terbit dalam platform Youtube. Menambah ragam produk Sketsa lainnya selain berita dan majalah digital lewat platform website. Ada juga sih majalah cetak tapi gak rutin terbitnya.  
Ide produk videografi ini datang dari kakak alumni, Kak Tebe yang langsung saya terima dan eksekusi. Pertama, karena saya pribadi memang memiliki ketertarikan dibidang broadcasting. Kedua, untuk memadatkan aktivitas anggota Sketsa, selain rutinitas rapat redaksi dan liputan. Proses shooting saya pikir bakal lebih seru dan menyenangkan. Karena akan dikerjakan dalam bentuk tim. Gak seperti berita yang bisa selesai hanya dengan satu reporter.
Pimpinan Sketsa Production kita sebut Produser yang dipegang oleh Jati Dwi Juwitaningrum di bawah naungan Divisi Redaksi. Saya sebagai Eksekutif Produser dan Kak Tebe sebagai pengarah produksi. Awalnya, produk videografi mau kita kasih nama Sketsa TV. Tapi ternyata, kata TV itu hanya boleh digunakan oleh stasiun TV resmi . Jadi kalo platformnya youtube, gak bisa pakai kata TV (ilmu baru).
Dalam waktu 10 bulan ini kita sudah menghasilkan 23 video. 9 video Katalis, 1 Sketsapedia, 1 Catatan Sketsa, 5 Bisul dan sisanya video random (yang bukan program). Paling banyak video kita sudah ditonton 1200 kali untuk program Sketsapedia dengan topik Bahasa Samarinda. (Ini link-nya https://www.youtube.com/watch?v=zx7ez-b4Hsg )
Nah untuk Bisul episode perdana kita minta Rektor Unmul, Prof Masjaya buat jadi bintang tamu. Karena dibawah kepemimpinan beliau, tahun ini Unmul dapat akreditasi A dan momennya emang pas habis dies natalis Unmul ke 55. Pertimbangan lainnya adalah karena ini episode perdana, jadi harus didongkrak dengan bintang tamu yang istimewa. Siapa lagi kalau bukan orang nomor satunya Unmul?
Hamdalah emang lagi rejeki, ngatur jadwal syuting sama Prof Jaya gak sulit. Padahal siapa yang gak tau gimana padatnya jadwal seorang rektor. Kami bikin janji itu sekitar 2 minggu sebelum syuting. Cuma yaa gitu, harus bolak-balik nemuin beliau buat ngingatin jadwal syuting. 

Dan karena ini momen pertama kalinya kita syuting sama Pak Rektor, kita bener-bener all out buat terlihat profesional di depan Pak Rektor. Untuk persiapan, kita rehearsal di H-5 syuting. Saking totalitasnya, pas rehearsal kita sewa go car untuk set di dalam mobil. Dan Wawal yang meranin jadi Pak Rector.
Hari-H Syuting itu dua hari Jumat-Sabtu tanggal 13-14 Oktober. Itu pas hari ultahnya saya, hehe (info gak penting banget). Sebelum syuting, biasalah ada trouble dikit, kita kekurangan kameramen dan perubahan scene yang mendadak.  Sedikit nervous juga sih karena syuting sama Pak Rektor. Biasanya kan sama mahasiswa aja. Untungnya Pak Rektor baik dan easy going banget. Beliau bener-bener kooperatif banget sama tim. Script kita ubah-ubah, minta syuting dimobil, di rumah dan lain-lainnya beliau 'oke' aja.

Nah yang bikin nerveous kita juga hilang seketika, pas syuting di scene pertama adalah karena pak rektor muji host Bisul yang cantik. Jadi waktu perkenalan tim, ketika saya perkenalkan "Ini host kita Prof, Fadiah Adlina Ilkom 2015," beliau langsung muji "Waah cantiknya," Seketika kita langsung berubah PD karena punya host yang cantik. Seterusnya suasana syuting jadi cair banget dan lebih santai.

Untuk scene pertama itu, host opening dulu, nyapa Pak rektor di lobby Rektorat. Baru lanjut ngobrol dalam mobil di perjalanan pulang ke rumah jabatan. Sebelum mobil berangkat, saya pesen memang sama sopirnya, Pak Arif biar jalannya agak pelan. Maksudnya biar proses wawancaranya agak lama dalam mobil. Karena normal dari rektorat ke rumah jabatan rektor itu cuma 3 menit. Eh tapi ternyata mobilnya jalan lambat banget kayak siput. Lambaaat banget, terlalu lambat bahkan. Maksud saya agak pelan, tapi gak selambat itu juga. Yang normal 3 menit jadi 15 menit. Sampe sempet macet dan diteriakin pengguna jalan yang lain.
“Woy baru belajar yaa!” parah. Pada gak tau kali kalo itu mobil Rektor. 
Sementara, proses taping dalam mobil cukup lancar meskipun lupa bawa audio dan host yang banyak improve. Tapi karena host dan kameramennya sangat berbakat, masalah kecil gitu mah bukan apa-apa. 

Syuting hari pertama selesai. Lanjut dihari kedua dengan 4 segmen sekaligus. Pak rektor baik banget, udah ngasih izin kita syuting di rumah jabatan, kita datang telat gak marah, minta syuting pindah-pindah dibolehin.  "Prof kita shoot di ruang tamu yaa/Oke/ Prof take ulang yaa/Oke/ Prof shoot sama ibu yaa/Okeee."  Udah gitu selesai syuting, dikasih duit lagi. Buat makan siang kru katanya. Baiknyaaaaa.
Shoot terakhir dilanjut Senin buat taping video aktivitas Pak Rector. Saya dan Syarif yang jadi kameramen  stay di ruangan. Saya pikir kami akan keluar masuk, misalnya kalo ada tamu penting kami disuruh keluar dulu gitu. Ternyata enggak sama sekali. Kita stay aja terus sampe selesai. Santai aja Pak Rektor ada kami. Mungkin tamu-tamu beliau yang heran, "Ini ngapain sih mereka nih."
**
Seminggu kemudian, akhirnya, Program Bincang Eksklusif Bersama Rektor Unmul, Prof.Dr.H. Masjaya, M.Si rilis di channel youtube Sketsa. Saya berterima kasih banget buat editor videonya, Ajey, karena dia ngeditnya cepet dan gak banyak drama. Beres aja pokoknya. Itu pun karena dia lagi sibuk, jadi nyelesaikan editing videonya seminggu. Padahal kalo gak sibuk, dia janji nyelesaikan editingnya, 3 hari. Gitu aja, dia mintaa maaf terus karena lewat deadline. "Gak papa Jey, yang penting gak mundur sebulan." 
After shooting day 1
 
Scene 1
 
Scene 1
Host Bisul yang cantik dan berbakat, Fadiah Adline aka Adhel (Punya fans di Sketsa Adhelicious). Gak cuma pinter nge-host, dia juga jago nyanyi. Kepribadiannya juga kalem, pokoknya gak ada alasan buat gak suka sama dia😍😍.
Kak Tebe: Penggagasnya Sketsa Production dan tanpa tapi selalu bantuin kita. Sosok kakak di Sketsa

 
Ajey: Editor canggihnya Sketsa. Kemapuan editing videonya dah expert banget. Moga kurang-kurang yaa sibuknya, biar bisa all out di Sketsa Production,
MUA-nya Sketsa yang gak kalah cetar sama artistnya
 
Day 3: Taping aktivitas Rektor di kantor

Day 3: Taping aktivitas Rektor di kantor

Muka capek kita. Padahal syuting juga belom 😂😂

Berikut saya cantumkan link Bincang Ekskusif yaaaa. Happy watching, dan jangan lupa subscribe. Thanks!
https://www.youtube.com/channel/UCydQT5sQloSBO3y9AkQN6ag


Publikasi resmi Bincang Eksklusif 👏👏


Last but not least, saya ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat all crew, terutama yang udah bantu shooting bisul. Kameramen, audioman, make up artist (MUA),  sampe yang bantu beli gado-gado buat Pak Rektor, makasih lah. Semoga Sketsa Production makin sukses, makin banyak program bermanfaat. Katalis makin gahar, Sketsapedia makin seru, dan Catatan Sketsa makin lucu.  Banyak yang nonton, subscribe, dan banyak iklan.  Makasih juga buat bintang tamu perdana-nya Bisul, Pak Rektor, Prof Masjaya. Sehat terus Prof, salam hormat. 
 
Pak Rektor, endorse Majalah Sketsa.Enggak deng, beliau emang beli
High Five!!
Khajjar R


Beberapa minggu ini, saya akan nulis, kayaknya bakal banyak dan berjilid-jilid tentang Sketsa. Karena saya baru demis dari sana dan tulisan-tulisan ini nanti bakal disimpan sebagai kenangan. Bersama kenangan-kenangan lain yang tersimpan dalam berbagai jenis. Foto, video, dan memori dalam ingatan. Soalnya emang banyak banget kenangannya di sketsa. Udah 3 tahun saya disana. 

Saya jelasin dulu yaa apa itu Sketsa, jadi Sketsa itu adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus saya, yang bergerak dibidang jurnalistik dan pers. Nama resminya Lembaga Pers Mahasiswa Suara Kritis dan Edukatif Mahasiswa Universitas Mulawarman disingkat LPM Sketsa Unmul. Ya, bisa dibilang pers atau media mahasiswa. Saya bergabung di sana sejak 2014 pas saya semester 3.

Kerjaan kita nulis berita seputaran kampus, kayak wartawan gitu. Nah, di Sketsa ini udah ada sistem yang kebangun bagus. Untuk ritme kerja, kita sangat professional. Dari rapat redaksi tiap minggu, kejar berita, deadline, reporter, fotografer, dan layouternya, semua professional. Tapi untuk hubungan internal, kami kekeluargaan banget. Emang ini yang membedakan UKM dengan ormawa (organisasi mahasiswa) lainnya. UKM memang asasnya kekeluargaan. Wajar kan kayak Imapa, Teater Yupa yang juga erat banget kekeluargannya. Karna UKM itu, sekali masuk sampe demis, paling kepengurusannya aja yang ganti tiap tahun.

Khusus ditulisan ini, saya mau cerita momen demisnya saya dari Sketsa. Jadi demisioner itu menurut KBBI adalah keadaan tanpa kekuasaan, misalnya suatu kabinet dan sebagainya yang telah mengembalikan mandat kepada kepala negara. Nah karena kata d-e-m-i-s-i-o-n-e-r itu kepanjangan, seterusnya kita singkat demis yaw. Saya diposisi itu sekarang setelah menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban sebagai Ketua Umum periode 2017 pada 4 November dalam Mubes ke limanya Sketsa kemarin.

Seminggu sebelum demis,  adalah minggu yang hectic banget di Sketsa. Karena ngejar deadline majalah digital edisi 31 yang harus selesai sebelum Mubes, karena bakal masuk di Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) redaksi. Bener aja, kami Mubes Sabtu, majalah selesai Hari Jumat-nya dan baru di share Senin. Di minggu itu juga, Sketsa ikut lomba majalah indie gitu, untung menang. Karena kalo nggak, saya akan menjadi sangat merasa bersalah karena sudah membuat tim kerja rodi semalaman.

Sebelum Mubes juga, saya ngerasa emosional banget. Rasanya kayak hati saya gak tenang. Antara senang dan sedih. Saya ngerasa sudah capek sekali di Sketsa, dan rasanya demis akan menjadi waktu yang tenang untuk beristirahat. Tapi disisi yang bersamaan, saya juga sedih untuk meninggalkan semua yang berkaitan dengan Sketsa. Terutama aktivitasnya. Setiap hari saya ke Sekre (Sekretariat Sketsa). Adaaaa aja yang dikerjain. Sampe makan dan tidur di sana. Dan kalau seterusnya, saya ke kampus tanpa ke sekre kayaknya bakal flat banget.

Diem-diem saya berharap, seperti yang anggota harapkan; Mubes-nya mundur aja. Tapi ya akhirnya momen itu datang juga. Anggota pada ngegodain "Kak Khajjar nanti pasti nangis pas Mubes," saya gak tau kenapa mereka yakin banget saya bakal nangis. Ternyata bukan tanpa alasan, mereka emang udah nyiapin sesuatu buat bikin semua yang demis pada nangis. 

Nah pas mubes dari pagi sampe malam, sidang pleno 1,2,3 sih riang-riang aja. Ramai lancar. Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban BPI (Badan Pengurus Inti) di sidang pleno 2. Dan setelah LPJ kami diterima, kami dinyatakan demis. Saya masih riang disitu. Lega banget bahkan. Kerja selama setahun gak sia-sia dengan kata "telah terlaksana," di lembar LPJ. Nah malamnya, setelah rapat formatur dan penentuan BPI periode 2018, panitia Mubes ngasih surprise. 

Mereka atas inisiasi Kak Tebe, bikin video buat kami yang demis. Isinya mereka ngomong pesan kesan buat kami sambil nangis-nangis. Sedih lah pokoknya. Tapi karena teknis yang tidak mendukung, tampilan video yang sedih sekali itu tidak terdengar dan terlihat jelas. Apalagi pas bagian Amel yang ngomong, cuma keliatan air mata dan gigi dia aja. Saya yang biasanya gampang nangis juga gak nangis hebat malam itu. Sempat nangis bentar, bentar banget, karena liat Amel sama Monik nangis. Soalnya mereka berdua biasanya jarang nangis. Monik sampe sesenggukan kayak napasnya hampir hilang. Saya sempet khawatir, ini anak baru aja habis op name dari rumah sakit, tar dia pingsan lagi kebanyakan nangis. Tapi untungnya enggak.

Saya aja mikir, kok saya gak nangis yaa, padahal biasanya saya termasuk yang gampang nangis. Mungkin karena saya terlalu senang malam itu, karena akhirnya Wawal mau jadi Ketua Umum (Ketum) Sketsa, setelah sebelumnya dia kukuh menolak dan mau demis bersama kami. Terus pas Mubes selesai, banyak anggota pada nangis dan melukin kami-kami yang demis. Padahal biasanya yang nangis itu yang pada demis atau yang naik jadi Ketum. Wawal yang emang selalu riang, hanya senyum-senyum  sambil berdiri bolak-balik merhatiin anggota yang pada pelukan.(Sepertinya dia dalam posisi, yang tidak tau dan tidak bisa memeluk siapa pun)

Mubes selesai jam 1 malam. Jadi beberapa memutuskan untuk bermalam di Sekre. Saya emang udah ngerencanain bakal tidur di Sekre karena saya pikir bakal jadi malam terakhir untuk menginap di sana. Tiba-tiba saya dipanggil sama anggota 10, dan diajak nyepi ke lobby samping SC sebelah tangga. Saya udah khawatir, jangan-jangan ni anak pada mau nyatain diri mau keluar dari Sketsa. Seperti temen-temen mereka yang belum kuat komitmennya. Eh tapi ternyata mereka ngasih kado, katanya sih kado ultah sekligus kado perpisahan. Duh hai, , ,

Paginya, saya Amel, Meyeng, dan Monik jadi yang terakhir stay di Sekre. Itu kayak dejavu, karena setahun yang lalu, pasca Mubes, kami adalah orang yang sama yang bermalam sampe pagi di Sekre. Kami sarapan bareng, menunya roti gembong coklat, semangka, kopi, dan makaroni pedas. Menu apa pun jadi enak kalau dimakan rame-rame sambil ceritaan. Siang, sekitar dhuhur saya siap-siap pulang.

Saya langsung beres-beres Sekre dan bawa beberapa barang yang bisa saya bawa. Kayak orang dipecat dari kerjaan gitu. Saya bawa satu dokumen LPJ, karena itu itu yang merangkum kerja kami setahun ini. Sebenernya, ada sih sof file-nya, cuma lebih otentik aja sih rasanya yang cetak gitu. Terus, kotak buku Trilogi 5 Menara yang jadi doorprize PJTD. Kotaknya doang karena bukunya dah jadi doorprize. Itu penuh kenangan banget, karena buat dapetin tanda tangan penulis dan ngirim dari Medan-Samarinda itu penuh perjuangan. Walaupun alasan utama, karena saya ngefans sama penulisnya, A Fuadi. Jadi biar kata kotaknya doang, saya juga udah seneng.

Terus, satu foto sama anak-anak Sketsa pas menang lomba majalah indie di BI. Ada dua foto di sekre dan saya ambil satu. Untung pada gak protes, mungkin sih anak Sketsa mikirnya udah demis mah bebas. Mau bawa boneka anjing pink saya yang saya dapet dari murid pas KKN. Tapi karena saya ingat itu sering jadi bantal anak Sketsa kalo tiduran di Sekre, ya udahlah tinggal aja. Kenang-kenangan. Terakhir, yaa kado dari anak-anak semalam.

Hari-hari selanjutnya pasca Mubes dan demis adalah hari-hari terberat (uu alay). Saya ada di masa transisi dari yang sibuk banget di Sketsa dan jadi gak punya kerjaan selain hanya nungguin bimbingan skripsi sama dosen. Meskipun di depan anak-anak Sketsa, saya sok tegar dan bilang hidup saya akan kembali normal setelah demis. Normal maksudnya, setiap hari saya hanya akan pergi ke kampus, perpusatakaan, kantin, pulang tepat waktu, dan mandi lalu makan malam di rumah. Gak kayak pas masih di Sketsa, yang makan siang dan malamnya gak teratur, kadang di jamak. Pulang selalu di atas jam 10 malam dan gak pernah mandi sore dan makan malam di rumah.

Daan bener aja, satu minggu pasca mubes, saya selalu sudah di rumah ba'da magrib. Hal yang tidak pernah terjadi ketika saya masih di Sketsa. Ke kampus juga cuman ke FISIP, Prodi, Perpus, Kantin, warung makan, atau rumah temen. Hal menyedihkan lainnya yang menjadi tradisi setelah Mubes adalah keluar grup chat internal Sketsa di Line. Demisnya Sabtu, saya baru keluar grup itu Kamis, setelah selesai download ribuan foto di album grup. Rasanya berat sih, mau leave grup. Soalnya ternyata kalo udah left, grupnya bener-bener ilang dari chat list. Kecuali kalo di kick, tapi minta anak Sketsa pada nge-kick juga gak ada yang mau. Padahal kalau grupnya masih bisa dibuka, saya pengen aja bacain chat yang dulu-dulu. Bisa jadi hiburan kalo pas kangen.

Dan akhirnya saya left. Habis left, anak-anak pada japri (jalur pribadi/personal chat) sedih gitu. Duuh saya jadi ikutan baper juga kan malam itu. Baru kerasa sekarang sedihnya, gini banget yaa rasanya demis. Padahal saya pikir, mereka bakal seneng aja tuh, gak ada lagi orang di sekre dengan muka galak, kelewat jutek dan suka merintah kayak saya. Saya seneng denger mereka cerita langsung tentang saya. Saya kan gak bisa nilai saya sendiri yaa, mereka bilang saya itu diktator. Kata-kata yang sering keluar dari saya itu, "Saya gak mau tau yaa,// Hari ini harus selesai yaa,//" Kalo udah gitu saya ngerasa kejem banget jadi ketua.  Padahal maksudnya saya itu, biar ada penegasan sedikit, dan sesuai target. Dan alhamdulillah-nya anggota paham itu, mereka tau dimana posisi ketika kerja atau bercanda. Jadi ketika sedang kerja di bawah pressure saya yang begitu, mereka paham aja. Setahun ini terasa singkat. . . Semoga tahun-tahun berikutnya akan terasa sesingkat ini.Dan semoga saya, segera MOVE ON!

Officially Demis. . .

Sehabis penyampaian LPJ

Selesai Mubes
Kado dari anak-anak
Cuma dua, dan saya ambil satu

Box of memories

Adaptasi Wawal jadi Ketum dan saya yang demis


Snapgram Willy

Snapgram Fira yang repost dari Kiki

Habis left, diundang lagi. Mungkin maksudnya, biar grup Sketsa tetep ada di list grup saya. Maacih

Snapgram Ariani

Indeed,  (Snapgram Hilda)
Kita gak pisah guys, kita hanya bekerja dalam dimensi yang berbeda. Tetap berkarya di jalan masing-masing. (Photo design by Kiki)


Who always love you guys,

Khajjar R
Hari ini Qori’ genap umur 16 tahun. Qori’ ini adik saya, nama lengkapnya Qoriatul Hidayah. Lahir
15 Oktober 2001. Saya memang cuma punya satu adik. Kami selisih 7 tahun, tapi sekarang udah gak keliatan selisihnya karena udah sama-sama gede. Bahkan badan dia lebih tinggi daripada saya. Saya percaya, adik selalu lebih cantik dari kakak, jadi saya ngerasa lebih cantik dari Mba Luluk, tapi Qori’ lebih cantik dari saya.

Dia itu beda sendiri diantara kami kakak-kakaknya. Saya dan Mba Luluk itu ceriwis, dia pendiam. Kami itu ekspresif, dia datar. Kami itu feminim dan girly banget, dia tomboy. Pas kelas 6 SD udah bisa naik motor cuma diajarin sama temennya. 

Qori’ ini termasuk berprestasi di sekolah. Sejak di Sekolah Dasar (SD) dia selalu juara 1. Kayak Mba Luluk. Saya-nya enggak. Waktu dia TK, kalo ditanya cita-citanya dia bilang mau jadi Guru TK, pas SD, Guru SD. Udah SMA gini, malah bingung dia mau jadi apa. 

Dia kan anak terakhir, jadi kami sekeluarga itu protective bahkan bisa dibilang over sama dia. Contohnya, pas kami sekeluarga itu baru tau kalau dia pacaran. Kami semua shock, lebih tepatnya khawatir. Pergaulan anak jaman sekarang kan ngeri yaa. Apalagi kalau udah berani pacaran. Walaupun menurut sebagian orang sebenernya hal macam gitu normal buat remaja. 

"Romantika remaja. Kayak gak pernah muda aja yaa kan?!"

Tapi tetep, buat keluarga kami, itu dosa. Itu gak bener!

Meski shock, masing-masing kami punya cara berbeda dalam bersikap. Mamak, paling tegas. Tanpa tapi, 'pokoknya harus putus'. Saya, sama shocknya. Shock karena saya ngerasa dikalahin sama adik, "saya aja udah 23 tahun belum pernah pacaran," haha, eh enggak ding. Pokoknya shock aja. Saya ngerasa gagal jadi kakak. Selama ini mungkin saya sok sibuk dengan urusan sendiri, sampe gak perhatiin Qori tumbuhnya gimana. Cuma, saya gak berani ngomong langsung ke Qori, karena kalo saya ngomong, niatnya sih nasehatin, tapi entar ujung-ujungnya sih pasti ngomel. 

Mba Luluk yang selalu dewasa sih woles aja, dia nasehatin Qori baik-baik. Dikasih penjelasan, gak bagusnya pacaran itu gimana, apa yang harus dilakukan selagi muda, sekolah, belajar, kejar cita-cita, dan banggain orang tua. Bapak yang paling sayang sama Qori, juga diem aja. Gak marah atau gimana. Malah di hadapan keluarga Bapak sok santai aja gitu. Malah Bapak bilang ke saya gini, "Kamu nih lebay, baru juga pacaran gitu, dah heboh."

Padahal tanpa sepengetahuan kita, ternyata Bapak sampe datangin rumah temennya Qori, buat nanya pacarnya Qori itu anaknya gimana. Jadi siapa yang lebih heboh? 

Terus endingnya, karena Qori' anak yang baik, demi keluarga, dia putuskan pacarnya. Kasian juga sih, tapi ya gak papa lah namanya juga demi kebaikan. Semoga Qori' menyadari bahwa semua yang kami lakukan, itu demi kebaikan dia.

Dia baru masuk SMA tahun ini. Masuk SMAN 1 di kabupaten. Jadi tinggalnya ngekos. Pulang tiap minggu. Sebenernya maunya keluarga, dia itu mau dimasukin pesantren. Kayak saya dan Mba Luluk dulu. Tapi dianya gak mau, emang dasarnya dia beda terus. Dan karena dia itu kalo ngambek diem, itu lebih menyeramkan dari pada saya sama Mba Luluk, ya udah akhirnya kita ngalah, nurutin dia mau sekolah dimana. 

Pernah pas lagi makan sahur di bulan Ramadhan, sebelum masa pendaftaran sekolah, Mamak nanya ke dia, "Kenapa sih Ri' gak mau masuk pesantren," bukannya jawab, dia taruh piringnya dan langsung masuk kamar. Gak jadi sahur. Coba. Saya yang agak diktator maunya maksain dia biar masuk pesantren, toh saya dulu juga dipaksain. Tapi Mba Luluk yang bijaksana, melarang itu. Dan nurutin maunya Qori' buat sekolah di SMA Negeri. "Biarkan dia belajar bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri," kata Mba Luluk.

Akhirnya Qori' masuk SMAN 1 di Kabupaten. Kebetulan pas daftar saya yang nemenin. Berkas dia siapin sendiri. Saya tinggal antar. Pas daftar sekolah, saya baru tau kalau ternyata siswa baru langsung pemilihan jurusan. Soalnya jaman saya dulu penentuan jurusan itu baru di kelas 2. 

Penentuan jurusan dipilih sendiri oleh siswa dengan pertimbangan nilai. IPS berkas pendaftaran di map kuning dan MIPA di map merah. Saya kaget ternyata Qori' nyiapin berkas dalam map kuning. Karena dia tidak memberikan jawaban rasional pas saya tanya kenapa dia milih IPS, saya ambil berkas pendaftran dia, dan saya ganti mapnya jadi map merah. Saya masukin dia ke MIPA. Paling enggak, dia harus sedikit diatur setelah bebas memilih sekolah. Jangan semua dibebasin. Lagian nilai dia emang lebih dari cukup untuk daftar di MIPA. Kenapa harus disia-siakan masuk IPS. 

Terakhir saya baru tau, ternyata dia milih IPS karena katanya pengen kuliah di Jurusan Hukum. Terus saya bilang, kalau MIPA mah bebas mau kuliah jurusan apa juga. Buktinya saya juga dari IPA dan kuliah di FISIP. Kadang saya ngerasa agak bersalah sih, maksain dia ke MIPA. Jadi kesaanya dia kayak terpaksa gitu, takut dia nanti tertekan dan stress. Tapi mudah-mudahan tidak. Semoga Qori' makin jadi pintar karena otaknya terus mikir rumus Fisika dan Matematika. Serta berkah ilmunya karena dia menuruti nasehat Mbaknya yang cantik ini, wkwkwkwkw.

Karena dia sekolah di Kabupaten, untuk tinggal dia kos. Kadang saya kasian. Dia baru SMA udah ngerasain nge-kos, yang masak sendiri dan tiap hari mikir besok makan apa? Saya pas seumuran dia, cuma fokus belajar doang. Karena di pesantren kan serba ada, makan tinggal tunggu lonceng dari dapur. Kuliah gini juga saya tinggal sama keluarga, gak ngekos, jadi gak perlu masak sendiri dan mikir besok makan apa. 

Makanya saya kagum sama dia, dia itu lebih mandiri dan dewasa dari apa yang saya pikirkan. Meski kalo dinasehatin dia itu diem aja, tapi dia mendengar dan memikirkannya. Contoh, saya nasehatin dia selama SMA untuk aktif di OSIS, Rohis, dan eskul lainnya. Dia pas di kasih tau diem aja tuh, tapi berapa bulan kemudian dia WA saya kalau dia maju sebagai kandidat Ketua OSIS. Walaupun gak menang. Ya maklum kan masih kelas satu. Saya aja gak nyangka dia maju secepat itu. Dia juga lapor kalo di sekolahnya itu tiap pagi ada jadwal shalat dhuha dan tadarus. Lalu tiap Jumat ada dzikir bersama. Dan yang terpenting dia udah jadi anak Rohis. Hamdalah. Maksudnya dia itu mau ngabarin, meskipun gak sekolah di pesantren, lingkungan dia juga cukup agamis. 

Terus dia juga gabung di Pramuka, gara-gara saya bilang anak pramuka itu keren. Padahal saya cuma bilang gitu doang. Gak maksud nyuruh dia masuk Pramuka. Tapi selama itu positif, ya bagus. Dan kayaknya dia emang nikmatin. 

Oke, itu sedikit cerita tentang Qori' yang sekarang lagi ulang tahun ke-16. Semoga dia jadi anak sholehah, cerdas dan sukses dengan cita-citanya. Sehat fisiknya, bahagia hatinya, cantik wajahnya, rajin ibadahnya dan selalu jadi kesayangan keluarga. Ammmmiiiiiin. 

Saat libur lebaran di Tenggarong

Qori' (kanan) di halaman sekolah

Kids jaman now, selfie jadi skill

Qori' dengan seragam Pramuka

Qori' (tiga dari kiri) dalam kegiatan Pramuka


Samarinda, 15 Oktober 2017
Love,

Mbak Ajar


Newer Posts Older Posts Home

Best of Mine

Best of Mine
Don't judge me too much if you don't know me too well

ABOUT AUTHOR

Suka Nulis || Suka Cerita || Suka Hal Baru || Dan Suka Kamu!! Terima Kasih Sudah Berkunjung :D

AmazingCounters.com

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  August (1)
      • Terima Kasih, Pak Faisal dan Bu Irene
  • ►  2025 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (9)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2018 (15)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Article
  • Impression
  • Prolife
  • Travelog

POPULAR POSTS

  • CATATAN SKETSA: JADI GINI RASANYA DEMIS. . .
  • 15 TH OCTOBER
  • CATATAN SKETSA: BEHIND THE SCENE (BTS) BINCANG EKSKLUSIF BERSAMA PAK REKTOR
  • Review Film: Dilan 1990

Copyright © 2016 THE CORNER OF MY WORLD . Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates