THE CORNER OF MY WORLD

Everyone has a story of their life. Here are mine: stories about love, friendship, family, dreams, and hopes, all set in the corner of my world. Fortunately, despite this big world, I have found my own little corner :D

Powered by Blogger.



27 Februari. Biasanya saya pasti merasa ada sesuatu di tanggal itu. Tapi 27 Februari tahun ini, benar-benar tak terasa apapun. Saya tidak ingat apa-apa. Biasanya pasti bergumam “27 Februari, hari apa yaa ini? Astaga ulang tahun Mba Luluk,” selalu seperti itu. Saya pasti ingat. Tapi tahun ini, blaasssss. Lupa.

Saya justru di ingatkan Facebook ketika tidak sengaja membukanya di tanggal 28. “Luluk Munawaroh berulang tahun kemarin” tulis Facebook mengingatkan. Astaga Facebook saja lebih baik dari saya, adiknya.

Saya mau langsung ucapkan saat itu, tapi kelewat telat, masak tidak membuat apapun. Minimal ada kue kecil dengan lilin yang bertuliskan selamat ulang tahun. Lalu saya upload. Tapi untuk ibu yang sudah punya dua anak, saya rasa hal macam begitu tidak perlu lagi.
Jadilah saya tulis saja catatan ini. Special di ulang tahun Mba Luluk yang ke-28.

Mba Luluk adalah anak pertama dari tiga bersaudara di keluarga kami. Saya yang paling beruntung menjadi anak tengah. Punya kakak dan adik. Nama lengkapnya adalah Luluk Munawaroh. Bahasa arab, artinya mutiara bersinar. Nama itu dari bapak, semua nama kami memang pemberian bapak. Mba Luluk, saya –Khajjar Rohmah-, dan adik saya Qoriatul Hidayah. All of our names have beautiful meanings. Thanks Dad!

Di keluarga kami tidak pernah ada momen merayakan ulang tahun. Pertama, karna memang di kampung kami, momen bertambahnya usia bukan sesuatu yang harus dirayakan. Perayaan untuk anak itu, hanya tasmiyahan, sunatan, dan khatam Qur’an. Kedua, tingkat kedewasaan anak di keluarga kami, tidak di ukur berdasarkan umur, tapi jenjang pendidikan. Kamu sudah kelas 3 SMP atau kamu sudah kuliah, bukan kamu sudah umur sekian-sekian.

Bapak dan mamak malah tidak pernah walau sekedar mengucapkan ketika ulang tahun kami. Mamak biasanya ingat, tapi diam saja. Bapak lebih parah lagi. Hari lahir kami saja tidak pernah hafal.

Saya baru mengenal momen merayakan ulang tahun itu ketika MTs (setingkat SMP). Ketika masa-masa remaja ababil yang tidak tau memasak. Jadi melempar tepung dan telur ke teman yang ulang tahun. Lalu dengan wajah berbinar-binar dan tertawa gembira, kami menyebutnya “SURPRISE”.

Kembali ke Mba Luluk, punya kakak perempuan itu anugerah terbesar dalam hidup. Punya teman sharing, punya contoh, -sebagai adik kita pasti mengikuti apapun yang kakak kita lakukan, dari berpakaian dan lain sebagainya-, dan punya pembimbing.

Sejak kecil, saya dan Mba Luluk tidak pernah berkelahi. Mungkin karena jarak umur kami lumayan terpaut jauh, lima tahun. Mba Luluk kelahiran 1989 dan saya 1994. Atau mungkin dia memang senang menjadi kakak yang sayang dengan adiknya. Saya ingat waktu Mba Luluk memberi tau saya ketika kami mau punya adik –Qori-. Dia bilang “Jar, kita mau punya adik,” wajahnya berbinar-binar dan senyum Mba Luluk mengembang. Saya hanya memperlihatkan wajah datar tanpa bicara. 

Mba Luluk itu sudah seperti teman, sahabat, bahkan ibu muda buat saya. Semua hal saya ceritakan padanya. Dia juga selalu mendukung apapun yang saya lakukan. Saya ingat sekali waktu saya pertama kali masuk sekolah dasar. Rasanya seperti dia yang lebih semangat. Saya biasa saja.

Dia yang menyetrika seragam saya, mengucir rambut dan memasak sarapan. Karena kebetulan sekolah mba Luluk masuk siang. Jadi pagi hari dia habiskan untuk mengurus saya. Sedangkan mamak setiap pagi sudah sibuk di warung.

Dari awal saya masuk sekolah, Mba Luluk selalu berpesan, “kamu harus ranking 1 yaa Jar,” jadi saat itu yang saya tau, ranking di sekolah itu cuma ada 1. Kalau tidak dapat ranking satu yaa tidak ranking. Saat pembagian raport tiba, saya ingat sekali yang membagikan pak Suwandi penjaga sekolah. Saat nama saya di panggil, saya tanya, “saya ranking berapa pak?”
“dua.” Jawab Pak Wandi singkat.
Saya nanya balik, “lo yang ranking 1 siapa?”
“Wawan,” jawabnya lagi. 

Saya langsung berjalan kecewa, saya gagal dapat ranking 1. Saya benar-benar tidak menerima ranking 2 itu. Bahkan ketika seorang teman menghampiri saya dan bertanya, “Jar kamu ranking berapa?”
“dua”
“wah, aku delapan, jadi tinggian aku dong,” 
Saya tidak menyadari itu lucu, saking kecewanya saya tidak mendapat ranking 1.

Sampai di rumah, saat itu bertepatan dengan acara tasmiahan adik saya, Qori. Belum kaki saya menginjak halaman rumah, Mbak Luluk sudah menghampiri saya.
“Ranking berapa Jar?”
“Dua,” saya menjawab lemas,
“Wah hebat. Siapa yang ranking 1?”
“Wawan.”

Saat itu saya yang masih kecil sudah menerima beban sebagai anak Pak Pri tokoh masyarakat di kampung dan adik Mba Luluk yang punya sejarah selalu ranking 1 selama 6 tahun tak terkalahkan di SD. Sebagai penerus Mba Luluk, saya harus puas hanya di ranking 2.
***

Sampai kelas tiga saya selalu juara dua. Stagnan. Tidak naik dan turun. Saya memang tidak rajin belajar ketika SD. Saya yakin yang membuat saya bertahan di ranking 2 karna PR saya yang selalu mendapat 100 karna dikerjakan Mba Luluk. Ketika kelas 4 dan Mba Luluk mulai masuk ke jenjang SMA, barulah saya kalang kabut. Karna Mba Luluk melanjutkan sekolah ke kota madya, dia masuk pesantren di Balikpapan.

Saya hampir kewalahan, karna dipaksa mandiri. Gak ada lagi Mba Luluk yang menyetrika seragam, menyisir rambut, dan menyiapkan sarapan di rumah. Semua harus saya kerjakan sendiri. Sejak itu, saya tidak pernah sarapan di rumah, seragam kusut karna tidak disetrika, atau baru disetrika karna masih basah, pernah juga disetrika tapi gosong, dan semua keruwetan tiap pagi.

Semua pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan Mba Luluk, juga jadi tanggung jawab saya. Nyuci piring, nyuci baju, ngurus Qori dan jaga warung. Butuh setahun untuk terbiasa dengan semua pekerjaan itu. Saya mulai bisa beradaptasi di kelas 5-6.

Ternyata kepergian Mba Luluk juga berpengaruh terhadap ranking saya di sekolah. Sejak Mba Luluk pergi, tidak ada lagi yang mengerjakan PR saya. Saya jadi lebih malas lagi belajar. Ditambah pelajaran kelas 4 – 6 SD yang menurut saya makin susah dan saingan saya yang makin banyak. Di kelas 4-6, saya hanya bisa meraih ranking 5.

Setelah lulus SD, saya melanjutkan jenjang sekolah menengah yang sama dengan Mba Luluk dulu. MTs Binaul Muhajirin. Pertimbangan saya saat itu, memang mencontoh Mba Luluk. Karna di MTs, sekolahnya masuk siang. Jadi pagi hari saya bisa membantu mamak berjualan di warung atau menjaga rumah saat mamak pergi ke pasar. Just like she used to do.

Tapi ternyata itu mimpi buruk di MTs. Saya membawa beban yang sama ketika SD. Sebagai adik yang membawa nama besar Mba Luluk. Saya tidak bisa melepas bayang-bayang itu. Siapapun orang yang saya temui, mau guru atau kakak kelas semua bilang “oh adiknya Mba Luluk yaa?”

Mba Luluk memang cukup terkenal. Mantan Ketua OSIS, juara bertahan ranking 1 selama 3 tahun berturut-turut, dan aktif mengikuti perlombaan. Saya sudah pasti, digadang-gadang mengikuti jejak yang sama.

Alhamdulillah di MTs, saya bisa sedikit mempertahankan nama baik Mba Luluk. Saya jadi wakil ketua OSIS –karna ketuanya anak pemilik yayasan-, dapat ranking 1, dan juga aktif mengikuti perlombaan. FYI saya sampai ke POSPEDA (Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Daerah)  mewakili kabupaten di tingkat provinsi untuk lomba puitisasi terjemah Al-Qur’an tahun 2009.

Lepas MTs, yang mendorong saya agar sekolah di pesantren juga Mba Luluk. Tapi saya gak mau masuk pesantren bekas Mba Luluk. Saya ingin lepas dari bayang-bayangnya. Dulu Mba Luluk di Syaichona Cholil, saya memilih di Hidayatullah. Sama-sama di Balikpapan.

Satu tahun di pesantren, saya mulai gak betah. Kemudian saya kirim surat ke orang tua minta dipindahkan, masuk SMA negeri di rumah. Saya bikin surat yang menyayat-nyayat seakan-akan saya begitu menderita di pesantren. Gak punya teman lah, sering sakit, dan kisah sedih yang saya dramatisir. Orang tua mana yang tidak pilu membaca surat anaknya demikian. Bapak hampir memindahkan saya, tapi Mbak Luluk yang tau akal bulus saya menentang dan meyakinkan bapak dan mamak bahwa saya harus tetap di pesantren.

Akhirnya, saya bisa bertahan 3 tahun sampe lulus dari pesantren. Saya ingat sekali nasihat Mba Luluk waktu saya minta pindah sekolah. “Cuma 3 tahun nah Jar, 3 tahun, kamu belajar di pesantren. Setelah itu kamu bebas lagi kok mau kemana, mau kuliah dimana saja. Ijazah dimana-mana itu sama. Ilmunya yang beda." Karena saya saat itu minta pindah ke sekolah negeri yang menurut saya lebih prestige ketimbang pesantren. 

Ketika masuk kuliah, saya kembali lagi ke masa seperti dulu. Belajar di tempat Mba Luluk juga belajar di sana. Saya satu almamater dengan Mba Luluk di Unmul. Tapi untungnya, di Unmul gak ada yang kenal Mba Luluk. Gak ada lagi kalimat “adiknya Mba Luluk yaa," (haha). 

Lagipula saya memang benar-benar mengambil segala hal yang jauh berbeda dengan Mba Luluk. Dia FKIP, saya FISIP. Dia anak Pusdima, saya anak pers. Coba kalo saya masuk FKIP dan anak Pusdima, bukan gak mungkin ada yang mengenali saya dan bilang “adiknya Mba Luluk yaa……..”
***

Sekarang Mba Luluk sudah berusia 28 tahun. Dia sudah berumah tangga dan memberi saya dua keponakan yang lucu. Zahra dan Gibran. Doa saya, semoga mba Luluk bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Menjadi anak yang berbakti buat orang tua kita. And keep being our dearest sister ever. Wish me will be married in 24 years old just like you haha.







Kiss kiss
Khajjar R






Memasuki November 2016 di masa kepemimpinan saya, Sketsa memang padat banget dengan beberapa agenda. Dari oprect  (open recruitment) gelombang 1, PJTD (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar), oprect gelombang 2, grand opening, hingga project majalah pdf. Bersamaan dengan itu Sketsa juga merilis bidang baru di bawah redaksi, Sketsa Production. Bener-bener gak ada waktu buat anggota Sketsa bersantai-santai ria.

Padahal, mereka sudah teriak-teriak jenuh dan butuh liburan. Di situasi genting seperti itulah Litbang hadir dan menawarkan family time (fame). Karna agenda yang padat, litbang nge-janji-in untuk fame setelah majalah pdf selesai.


Tapi, nemuin waktu yang pas untuk fame supaya anggota bisa ikut semua itu hal tersulit di Sketsa. Fame awalnya direncanakan akhir Januari, tapi masih banyak anggota yang liburan di kampung halaman. Kami-kami yang stay di Samarinda, rela nunggu anggota balik dulu biar bisa fame sama-sama. Akhirnya ditetapkan 4-5 Februari Sketsa akan fame ke Tenggarong. Karna itu pas weekend di minggu pertama masa aktif perkuliahan. Tapi tetep aja, gak semua anak Sketsa bisa pergi.


H-2 keberangkatan, sempat drama dulu sama tim Sketsa Production karna ternyata fame bertabrakan dengan jadwal syuting program Katalis mereka. Saya sempat berdebat panjang sama directornya. Bahkan di grup line kami, capslock sampe jebol semua karna chattingan penuh emosi. Director keukeuh mau ngebatalin fame demi syuting yang menurutnya lebih prioritas. Sedangkan buat saya, semua agenda Sketsa yang sudah terencana adalah prioritas. Apalagi fame gak cuma sekedar liburan. Tapi ajang untuk saling mengakrabkan diri, memperkuat solidaritas, dan memupuk rasa saling memiliki satu sama lain sebagai keluarga di Sketsa. Akhirnya H-1 dioptimalkan buat syuting Katalis, dan esoknya tetap pergi untuk fame.


Fame Sketsa sudah diatur, 2 hari 1 malam di Tenggarong. Tapi ternyata yang full ikut 2 hari bisa dihitung jari. Sebagian ikut di salah satu harinya atau gak ikut sama sekali. Padahal konsep fame perdana ini mateng banget disusun litbang.


Hari H, kami berangkat ke Tenggarong bermotoran ala-ala amor (anak motor). Ada 17 anggota dengan sembilan motor. Kami menuju Kelurahan Bukit Biru. Meskipun sempat nyasar dan terpisah, akhirnya  kami sampai ditempat tujuan. Sebuah rumah di kaki Bukit Biru dengan hamparan sawah dan suasana khas pedesaan. Rumah tersebut, adalah milik tante Biru si Ketua Litbang.


Di sana, kami masak rame-rame untuk makan siang. Menu yang kami pilih khas rumahan banget, sayur bening, tahu, tempe dan ikan layang goreng, pepes patin dan sambel tomat. Apa yang lebih nikmat dari itu? Kekenyangan lalu tidur siang sambil menikmati hunian di kaki bukit biru, dengan keramik yang dingin dan udara panas serta angin yang sepoi-sepoi. Sore harinya kami jalan-jalan keliling persawahan.

Jalan-jalan sore keliling sawah part 1


Jalan-jalan sore keliling sawah part 2


Santai sore


Di teras rumah tante Biru


Saya gak nyangka, Tenggarong sebuah Kota Wisata yang selama ini cuma saya kenal dengan Pulau Kumala, museum dan Eraunya, ternyata juga menawarkan nuansa desa yang indah dan berpotensi sebagai objek kampung wisata. Yaitu Kelurahan Bukit Biru.



Kelurahan Bukit Biru yang indah



Menjelang senja, kami bertolak menuju rumah Sita di Jalan Pesut untuk bermalam. Saya respek banget, Sita masih anggota baru yang belum seberapa akrab sama kami-kami, tapi sudah merelakan rumahnya untuk kami tumpangi. Tapi di Sketsa emang gitu sih, rata-rata anggotanya adalah orang-orang yang mudah beradaptasi dan gampang akrab satu sama lain. Untuk tidak dikatakan SKSD (hehe).


Di rumah Sita, kami disambut sudah seperti keluarga, oleh ibu, nenek dan dua adiknya. Bahkan kami disuguhi soto ayam sebagai menu makan malam. Desain rumah Sita cukup unik. Tidak terlalu luas, tapi panjang ke belakang dan  tinggi ke atas. Kami tidur di balkon lantai 3. Berhamparan kasur ditemani lampu kerlap-kerlip yang dipasang di atas pagar balkon. Dari balkon itu, kita bisa melihat  jembatan Kota Tenggarong dan patung Lembus Suana di Pulau Kumala. Benar-benar malam minggu yang indah.


Balkon rumah Sita

In frame: Sanah,Fitia, Riya, Dwi, Biru, Amel, saya
Pukul 8 malam saya sudah terdampar dipulau kapuk. Bersamaan dengan itu, anak Sketsa yang lain melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang buat adonan donat, nonton film horor dan bermain game. Saya yang tidak berminat dengan ketiganya memilih menenggelamkan kepala ke bantal. Berusaha tidur.

Berfoto bersama nenek Sita, sebelum berpamitan

Pagi harinya, Eri, Nana, Eka, Syarif, Adi, Elisha, dan Ajey menyusul dari Samarinda. Setelah sarapan kami bersiap menuju destinasi wisata selanjutnya, Pulau Kumala. Mainstream sih. Tapi ya gak papalah. Mencoba nge-hitz.


Agak awkward di Pulau Kumala, karna di sana kami gak tau mau ngapain selain foto-foto. Akhirnya Biru punya ide cemerlang untuk naik kapal wisata mengelilingi pulau. Biaya  sewa kapal, 10 ribu rupiah per orang selama  40 menit. Cukup murahlah menurut saya. Apalagi kapalnya cukup besar, bertingkat, dan nyaman dengan kapasitas 80 orang. Selama di kapal kami main-main, foto, take video dan menikmati keindahan Pulau Kumala tiap sisi. Apalagi ketika melewati ujung pulau yang ada patung Lembu Suana raksasa. Berasa surga!
Foto-foto di Kumala

Welcome to Kumala Fantasy Island. Horraaay!

Di atas kapal wisata mengelilingi Pulau Kumala



Suasana di kapal lantai 2

Agar yakin ini memang Kumala

wajah-wajah kurang piknik yang sedang piknik. Dan Wawal tidak lupa membawa choki-chokinya
Patung Lembu Suana dari samping

 
Patung Lembu Suana dari dekat. Elok!

Pulau Kumala tampak depan



Sekitar pukul 14.30, akhirnya kami pulang kembali ke Samarinda. Mengakhiri fame dan meninggalkan Kota Tenggarong dengan dua nuansa. Nuansa desa dan Pulau Kumala. Nuansa rumah tante Biru yang asri dan rumah Sita yang unik. Semoga fame berikutnya, full anggota Sketsa bisa join dan buat fame yang lebih berkesan!!! Bye.


Attention:
Download Majalah Pdf Sketsa Edisi 28 di, http://sketsaunmul.co/unduhan
Subscribe program-program Sketsa Production di akun Youtube kami, Sketsaunmuldotco 

Big thanks

Khajjar. R








Image by Amovita.com


Siapa di sini yang punya cita-cita jadi presiden? Kalau ada, berarti kita sama. Salah satu alasan kuat kenapa saya ingin menjadi seorang pemimpin adalah atas dasar fitrah manusia. Saya percaya manusia diciptakan sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Kita lahir dari rahim seorang ibu juga karena kita adalah sperma terpilih. Yang memimpin dari ribuan sel sperma lainnya. Jadi, tidak ada alasan kita tidak bisa memimpin. Semua orang bisa memimpin, setidaknya diri sendiri.

Tetapi, meski punya passion sebagai pemimpin sejak kecil, sebelum 22 tahun ini saya tidak pernah dapat kesempatan jadi pemimpin, selain ketua kelas -dan tidak sengaja sebagai ketua teater-. Waktu MTs (Madrasah Tsanawiyah –setara SMP-) saya mengejar jabatan jadi ketua OSIS. Tapi, karena rival saya adalah anak pendiri yayasan, dan saat itu pemilihan ketua OSIS sangat tidak demokratis –ditunjuk oleh guru berdasarkan ranking siswa di kelas-, saya hanya terpilih sebagai wakil ketua.

Berlanjut di MA (Madrasah Aliyah –setara SMA-) saya kembali aktif di OSIS dan terpilih sebagai sekretaris, lagi-lagi bukan ketua. Karena, waktu itu saya sekolah di pesantren yang mengedepankan musyawarah dan mufakat. Budaya di pesantren saya, memang selalu memilih ketua OSIS dari kalangan santri asli atau warga pesantren. Bukan santri yang hanya numpang sekolah ber-asrama untuk jenjang tertentu seperti saya.

Akhirnya saya mendapat kesempatan menjadi ketua di klub teater MA. Itupun sebenarnya menggantikan teman saya –ketua sebelumnya- yang dikeluarkan dari pesantren. Senang sekali rasanya ketika kita diberi kesempatan untuk memimpin sebuah komunitas atau organisasi yang memang kita cintai sejak awal –bukan berarti saya senang karna teman saya dikeluarkan-.

Jadi di pesantren saya, banyak klub-klub belajar sebagai kegiatan ekstrakurikuler para santri. Ada klub kaligrafi, klub english, klub bahasa arab, PMR (Palang Merah Remaja), dan lain-lain. Saya memilih klub teater.

Dimasa kepemimpinan saya, klub teater MTs dan MA yang sebelumnya dipisah, digabung menjadi satu dibawah naungan teater MA. Itu artinya saya menangani dua klub teater, karena meskipun digabung, tetap saja teater ini punya dua jenjang, MTs dan MA.

Saya berkomitmen sejak awal, di bawah kepemimpinan saya, teater harus punya 2 pentas tunggal. Pentas tunggal adalah pentas terbesar yang digelar klub teater setiap tahunnya. Tapi beberapa tahun terakhir, sebelum saya, pentas tunggal sempat mati karena berbagai hal, seperti ketidaksiapan pengurus dan minimnya dukungan dari pihak sekolah. Hanya pentas-pentas kecil saja seperti demo teater untuk open recruitment anggota baru.

Saya sempat ditentang oleh teman-teman sesama pengurus dan kelas untuk menggelar dua pentas tunggal. Alasannya karena saat itu kami sudah kelas 12 dan mendekati masa try out. Satu pentas tunggal dari jenjang MTs, dirasa cukup. Tapi saya tidak semudah itu menyerah, saya yakin kita pasti bisa menyelenggarakan 2 pentas tunggal. Apalagi, Umi Indah, pembina teater kami sudah menyiapkan naskah yang luar biasa berbeda dari pentas-pentas sebelumnya.

Dengan usaha keras dan doa, akhirnya dua pentas tunggal berhasil dilaksanakan dan mendulang sukses luar biasa. Di jenjang MTs pentas tunggal berjudul “Kisah Dibalik Cerita” dan dijenjang MA berjudul “Pitaloka”.

Itulah kenapa saya senang bisa menajadi seorang pemimpin, karena kita punya kesempatan untuk menentukan kebijakan. Meskipun bukan berarti kita mengabaikan pendapat orang lain apalagi menjadi dictator. Saya bisa menebak, kalau saya bukan ketua teater waktu itu, dan saya tetap keukeuh untuk bikin dua pentas tunggal, pasti tidak didengar.

Dimasa kuliah sekarang, dipenghujung semester tujuh, ditahun ke 22, saya mendapat kesempatan sebagai pemimpin. Sama seperti klub semasa di MA. Tapi bukan teater. Kali ini di bidang jurnalistik dan pers. Namanya LPM Sketsa Unmul. LPM adalah singkatan Lembaga Pers Mahasiswa, Sketsa –Suara Kritis dan Edukatif Mahasiswa- dan Unmul tentu saja nama universitasnya. Universitas Mulawarman.

Sama juga seperti di pesantren, pemilihan ketua umum di Sketsa melalui musyawarah dalam rapat formatur. Saya, saat rapat formatur, -meski memiliki target menjadi ketua- saya sama sekali tidak mengajukan diri sendiri untuk menjadi kandidat ketua umum. Ya, karna saya sadar, akan kekurangan dan kapasitas saya. Masih ada nama lain yang saya anggap lebih layak, berkapasitas, dan mampu untuk menempati posisi itu.

Tapi dari hasil musyawarah, ternyata disepakati, saya yang dipilih. Perasaan saya saat itu, entahlah. Saya tidak bisa mendeskripsikan. Yang jelas saya tidak menangis, dan saya tidak tahu apa saya harus menagis atau tidak. Karena Roro –ketua umum yang baru saja demisioner- memeluk saya sambil menangis.
Serah terima jabatan Ketua Umum LPM Sketsa Unmul pada Mubes IV (29/10)
Sama saat beberapa tahun silam ketika masa pemilihan pengurus inti OSIS di MA, empat pengurus inti OSIS terpilih, ketua, wakil, bendahara, dan saya sebagai sekretaris, mereka semua menangis saling berpelukan. Tapi, saya tidak.

Kenapa saya tidak menangis? Ya karna saya tidak merasa sedih. Saya tau, mendapat amanah itu suatu hal yang sangat berat. Tapi bukankah amanah selalu memilih pundak yang tepat?
Saya hanya berpikir, saya punya tanggung jawab yang lebih besar, saya mendapat kepercayaan dan saya harus melakukan yang terbaik.



Newer Posts Older Posts Home

Best of Mine

Best of Mine
Don't judge me too much if you don't know me too well

ABOUT AUTHOR

Suka Nulis || Suka Cerita || Suka Hal Baru || Dan Suka Kamu!! Terima Kasih Sudah Berkunjung :D

AmazingCounters.com

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  November (1)
      • Happy Birthday Ayu!
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2022 (9)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  October (2)
  • ►  2018 (15)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (8)
    • ►  December (1)
    • ►  September (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Article
  • Impression
  • Prolife
  • Travelog

POPULAR POSTS

  • CATATAN SKETSA: JADI GINI RASANYA DEMIS. . .
  • 15 TH OCTOBER
  • CATATAN SKETSA: BEHIND THE SCENE (BTS) BINCANG EKSKLUSIF BERSAMA PAK REKTOR
  • Review Film: Dilan 1990

Copyright © 2016 THE CORNER OF MY WORLD . Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates